Diberdayakan oleh Blogger.
.

Lebenswelt Husserl


posted by Azhar Rijal Fadlillah on

No comments

Lebenswelt Husserl

Gambar diambil dari sini


Yang dimaksud dengan Lebenswelt ini tiada lain adalah aliran kehidupan langsung sebelum direfleksikan, lapisan dasar yang kemudian memunculkan tematisasi dan teoretisasi ilmiah. Ini adalah dunia yang kita hayati sehari-hari secara kongkret, dunia yang mendahului pemilahan modern menjadi subjektif dan objektif. Dengan kata lain ini adalah dunia prailmiah yang dihayati sehari-hari, yang sebenarnya melandasi segala konstruksi ilmiah dan bahkan diandaikan olehnya. Sebagaimana ditekankan oleh Husserl sendiri berkali-kali, segala bentruk konstruksi ilmiah hanyalah idealisasi, abstraksi dari dan penafsiran tentang dunia prareflektif kehidupan langsung ini. Dari sebab itu, konsepsi-konsepsi ilmiah haruslah dianggap semata-mata sebagai cara pandang tertentu saja atas dunia tersebut atau cara tertentu untuk menggauli dunia tersebut sesuai dengan tujuan tertentu pula. Dengan demikian yang disebut dunia “objektif” sebetulnya hanyalah penafsiran tertentu saja atas dunia pengalaman hidup sehari-hari yang mengatasi dan mendahului kategori-kategori objektivistik maupun suubjektifistik.

Husserl menguraikan soal “dunia kehidupan” dengan cara mempertemukannya dengan dunia ilmiah-matematis. Metode ilmiah adalah suatu konstruksi yang mengidealisasi- berdasarkan apa yang terlihat- dan diyakini oleh para ilmuwan bahwa apa yang terlihat itu tetaplah sama kendatipun yang melihat itu bukan ilmuwan. “Dunia kehidupan” bukanlah sebuah dunia idealitas geometris, melainkan sebuah dunia yang bahkan karakter ruangnya pun sebetulnya tak pernah sedemikian jelas dan gamblang. Manakala dalam dunia ilmiah tadi peran intuisi coba dihindari, dalam dunia kehidupan justru berperan sentral. Dunia kehidupan adalah medan evidensi natural asali. Kepada dunia itulah para ilmuwan harus mengembalikan teorinya untuk diverifikasi. Dunia kehidupan adalah dunia pengalaman langsung sementara dunia ilmiah adalah dunia yang sudah termediasi.

Gagasan tentang dunia-hidup tadi dengan demikian sudah menggerogoti klaim-klaim dari pihak ilmu yang menganggap dirinya bebas praduga dan memiliki fondasi tak tergoyahkan. Husserl sendiri kiranya tak menduga akan muncul kesimpulan macam ini. Tapi para penerusnya ternyata memang menemukan bahkan lebih dari yang sempat terpikirkan olehnya. Konsekuensi radikal dari upaya Husserl untuk menjadikan filsafat sebuah ilmu keras dengan logika yang ketat (senada dengan kerinduannya untuk menjadikan filsafat seperti masa tradisi metafisik-platonik) telah dirumuskan oleh Gadamer; “Pemikiran filosofis bukanlah ilmu sama sekali. Tak ada klaim tentang pengetahuan definitive kecuali satu; pengakuan atas keterbatasan manusia itu sendiri.”
- I. Bambang Sugiharto- "Postmodernisme"

Begitu pun dengan paparan sederhana ini,
Hanya sekadar menemui batas akhir keterbatasan, yang entah sampai dimana.



Azhar Rijal Fadlillah
13 Desember 2010

Leave a Reply

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...