Diberdayakan oleh Blogger.
.

Klab Filsafat: Kesetaraan Gender


posted by Azhar Rijal Fadlillah on

No comments

Klab filsafat hari ini hadir dengan formasi yang cukup ideal untuk membicarakan gender. Ka-pe, Luki, Aping, Bung Nekad (tentu saja nama samaran, yang hingga tulisan ini dibuat tidak diketahui nama aslinya), Rudi, AM, Ijal yang mewakili kaum pria dan Deasy, Nanda, Dini, Diva yang mewakili kaum perempuan. Sementara Syarif, sang moderator berhalangan hadir, Ijal diberikan tugas untuk menggawangi jalannya diskusi.


Foto Oleh: Dini Zakia

Diskusi dibuka dengan paparan singkat pengalaman pribadi masing-masing orang yang hadir dalam kaitannya dengan isu gender. Beberapa masih mengamini adanya tegangan itu, seperti kesaksian Nanda “di kantor, saya masih merasa didiskreditkan karena saya perempuan. Beberapa kali, ada beban-beban tugas yang seharusnya diberikan pada saya, tapi nyatanya atasan saya memberikan pada laki-laki. Ini aneh, padahal kerja saya bukan kerja fisik, saya kerja memproduksi gagasan. Mungkin masih ada anggapan bahwa pria lebih ‘rasional’ dibandingkan perempuan yang lebih mengutamakan ‘perasaan’. Kan common sense nya gitu.”

Dalam tataran keluarga pun kita seringkali terjebak pada pandangan umum perihal peran kepala keluarga dan anggota keluarga. Ayah harus mengambil posisi sebagai kepala keluarga, ibu sebagai pengasuh anak dan pengurus urusan domestik rumah tangga, dan anak sebagai ladang kosong yang siap ditanami nilai-nilai apapun dari bibit yang sudah disiapkan orang tua. Ada beberapa kasus seperti yang dialami Dini dan Rudi. Mereka mengaku tidak mendapatkan peran ayah sebagai kepala keluarga, malah mendapatkannya dari ibu. Mereka mengaku bahwa hal itu tidaklah menjadi masalah, tetapi mereka masih tetap merasa ada yang tidak beres. Itu berarti, ada asumsi dasar mengenai peran ‘yang seharusnya’. Mengenai peran yang statusnya ‘veto’. Peran yang tidak bisa tidak, harus begitu saja, karena begitu konsensusnya.

Diva yang datang terlambat bersama Ka-pe (yang juga mungkin nama samaran) langsung masuk pada inti diskusi, akar persoalan yang sedari tadi kita diskusikan dan masih saja ‘kabur’ karena ketidakjelasan bias gender dan kelamin. Diva menjelaskan, gender dan kelamin tidak bisa dicampuradukan. Kelamin itu persoalan tubuh laki-laki dan tubuh perempuan, juga ‘tubuh antara’. Sedangkan gender adalah persoalan muatan nilai dan sikap dibalik tubuh, ada feminim dan maskulin. Jadi bisa saja seorang ayah yang tidak mampu menjalankan perannya sesuai dengan anggapan umum masyarakat memang tidak membawa muatan nilai-nilai itu dalam dirinya. Bisa jadi, ayah tersebut lebih dominan feminimnya dibanding maskulin. Tapi kasus seperti itu juga tidak bisa langsung kita definisikan sebagai kegagalan sang ayah.

Diva menambahkan bahwa pentingnya komunikasi yang efektif dalam hubungan. Persoalan peran, dominasi, dan keputusan mestilah terjadi secara dialogis. Lahir dari kompromi-kompromi kecil di dalam lingkaran interaksi tersebut. Tidak menjadi masalah, ibu naik genteng untuk membetulkan antena, lebih mapan karirnya dibandingkan ayah, dan lebih dominan dalam setiap pengambilan keputusan. Sementara ayah lebih sering mengurus anak, mengatur keuangan keluarga, dan urusan-urusan domestik lainnya. Itu semua sah-sah saja selama keputusan itu didasarkan pada kompromi pembagian tugas dan peran.

Bisa jadi, ibu memang lebih padai mencari uang, maka serahkanlah peran itu untuk ibu. Begitu sebaliknya. Ya, semua berbasis kompetensi saja. Tutup Diva.

Setelah itu, diskusi menjadi lebih mapan. Kita mencoba membongkar kembali persoalan-persoalan yang di awal sempat mengambang pada arus tak tentu. Klab filsafat juga pada pertemuan kali ini kembali belajar, merefleksikan, dan meredefinisi perannya. Tidak bisa dengan jumawa mengatakan dirinya tahu segala sesuatu, menyerahkan hal-ihwal tertentu pada orang dan atau kalangan yang lebih kompeten memang dirasa perlu. Agar filsafat tidak terjerumus kembali pada kontradiksi purbanya, mencintai kebijaksanaan tapi paling tidak bijak menghadapi persoalan.

Senin depan, klab filsafat akan nonton bareng film dokumenter “Inside Job”. Datang dan hadirlah, karena klab filsafat selalu gratis dan terbuka untuk siapa saja. Karena bisa jadi, kebijaksanaan datang dari anda.


Tobucil, 3 Maret 2012

Leave a Reply

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...