Diberdayakan oleh Blogger.
.

Larung Perahu Kertas


posted by Azhar Rijal Fadlillah on

No comments

Ada banyak peristiwa yang terjadi dalam ruang tunggu yang begitu besar ini. Bahkan terlalu besar bagi perempuan mungil sepertiku. Tidak begitu banyak juga yang bisa kulakukan dalam penantian panjang ini, aku asing di kota kecil yang memiliki satu terminal tua, satu stasiun, dan satu pelabuhan di pesisir selatan kota ini. Aku juga tidak memiliki banyak teman di kota ini, hanya ada satu, teman semasa kecilku, teman ketika kita berdua menghabiskan senja di sungai belakang kampung dengan membuat perahu-perahu kertas, lalu menghanyutkannya bersama deras air yang entah menuju ke muara yang mana.


Gambar diambil dari sini

Antonio, setahuku kamu sekarang sudah merantau ke kota, sebuah kota besar yang bisa diukur dengan salah satu indikatornya: kriminalitas. Kamu kuliah di jurusan filsafat. Ah, entah apa lagi mainanmu sekarang. Apa juga itu filsafat, aku tidak tahu pasti, hanya saja dari televisi, aku sering melihat orang berbicara tentang filosofi. Mulai dari filosofi hidup bersahaja, filosofi bermain sepakbola, hingga di salah satu rak buku teman kontrakanku ada buku berjudul filosofi kopi. Lalu apa yang kamu lakukan di kampus bersama profesor-profesor beruban itu? Akan jadi apa kamu? Aku tidak habis pikir, akan kerja apa setelah lulus nanti. Kenapa tidak kuliah di jurusan akuntansi, kedokteran, hukum, atau manajemen saja? Dasar Antonio, dari dulu kamu tidak pernah berubah.

Derit roda kereta beradu dengan rel yang sudah renta dimakan usia sesekali memecah hening. Angin bulan Maret, ah ia selalu mengantarkan dingin yang menusuk hingga sumsum tulang belakangku. Apalagi bagi perempuan kecil sepertiku. Aku masih duduk di bangku peron yang lengang. Hanya sesekali orang berlalu, beberapa memicingkan mata, menandai sesuatu yang asing barangkali. Perempuan, memegang sebotol Heineken dan mengapit sebatang Country mungkin memang asing bagi kota sekecil ini. Apalagi tengah malam dan sendiri, disampingnya hanya ditemani ransel yang aku sulap menjadi rumah keduaku.

Aku masih terduduk. Masih belum bundar niatku, akan pergi kemana malam ini. Di kota ini, kota yang selalu menyergapku dengan badai kenangan purba, aku menekuri sejarah pernah begitu kejam pada seikat kebahagiaan kecil bernama keluarga. Ibu bapakku habis ditelan rimba. Pada suatu pagi ketika aku hendak berangkat mengenakan seragam merah-putih dengan ingus bergelantungan, mereka dijemput truk dengan paman-paman berseragam yang membawa pentungan dan senapan. Aku hanya ingat ucapan terakhir mereka “Diana, pulangnya ke rumah paman Lukas ya. Ibu sama bapak mau ke kota dulu.” Semenjak saat itu, ingatanku selalu berupaya membenci truk, seragam, dan kota.


Antonio, apakah kamu masih ingat hari itu? ketika pulang sekolah dijemput oleh paman Lukas, kamu juga ikut menginap dan menetap di rumahnya. Lalu hari-hari kita tidak pernah luput dari permainan-permainan nakal di belakang rumah. Banyak keonaran kita yang membuat seisi kampung geger. Atau kamu sudah lupa? Seperti buku-buku sejarah anak sekolahan yang seringkali lupa mencantumkan peristiwa-peristiwa seperti itu? Antonio, mendadak aku begitu rindu kenakalanmu. Seringai tipis yang bergelayut di raut wajahmu setiap kali melempari kaca Pak Ahmad dengan buah tomat. Aku dengar-dengar kamu juga sekarang masih menjadi pelempar yang tangguh ya? Kamu melempari gedung-gedung di kota dan beradu mulut bahkan otot dengan para petugas berseragam itu. Tentu saja bukan dengan tomat segar lagi kan? Bukankah di kota sulit sekali menemukan tomat langsung dari tangkainya? Ah Antonio, dimana kamu? Bagaimana kabarmu? Apakah janggut dan kumismu—yang sedari dulu selalu kamu impikan—sudah tumbuh? Aku rindu. Tak tahu harus berpulang kemana, selain sejarah yang kita pintal berdua di sepanjang aliran sungai yang kini sudah mulai mengering. Kota ini sudah tak seindah dulu dan kamu masih juga belum memberi isyarat kita akan bertemu.

Malam masih gelap dan angin bulan Maret belum juga jinak pada tubuh kecilku.
“Masih setia dengan Country?”

Suhu tubuhku mendadak panas, angin bulan Maret segera bersembunyi dibalik toilet peron. Malam menjadi begitu gempita dengan gemuruh kecil suara-suara yang tiba-tiba menjadi terdengar. Ruang tunggu yang tadinya terasa sangat besar tiba-tiba menjadi terlalu kecil untuk menampung semua kelibat kenangan. Segerombolan pasukan rindu. Aku hapal betul suara ini—suara yang terakhir kudengar setahun yang lalu melalui gagang telepon umum di stasiun kecil kota sebelah, aku sangat akrab dengan bau parfum Aqua Bvlgari ini. Selalu, bagiku nama, wajah, dan gerak-gerik bisa dengan mudah lupa. Tapi bau parfum yang bercampur aroma tubuh seseorang tidak pernah bisa, selalu membekas. Menempati sebagian ruang dalam diri bernama ingatan.

Segera sepasukan kenangan menyergap tanpa aba-aba. Bayangan tentang seragam merah-putih, sungai, perahu kertas, tomat. Seragam putih-biru, rokok, playstation, upacara bendera sialan. Seragam putih-abu, bir, film panas, kafe-kafe, bukit, sungai yang sama, dan tentu saja kisah cinta pertama kita di atas ranjang yang berderit—di rumah kosong yang ditinggalkan Pak Ahmad.

“Kamu juga masih setia dengan pisau lipat victorinox yang selalu menggantung di sakumu itu”

Setahun yang lalu, percakapan terakhir melalui gagang telepon yang aku ingat hanya restumu untuk merantau, entah kemana, karena sambungan segera terputus tanpa sebab yang jelas. Lalu kamu menghilang tak jelas kabarnya. Kamu selalu meninggalkan sebentuk lubang dalam diriku berupa ketidakjelasan. Itu yang paling aku benci dan cintai dari kamu, Antonio!

Kamu tidak pernah jelas dalam hal apapun. Sulit didefinisikan, sulit membacamu. Selalu yang kudapati hanya serangkaian kalimat tak terbaca, paragraf pincang tanpa makna. Sebuah wacana tanpa pretensi apapun. Sebuah perjalanan tanpa tujuan. Mungkin hidupmu sudah cukup, begitu penuh dengan hanya bernafas. Ya, bernafas dengan segala daya hidupmu yang besar itu.

Kemudian percakapan di peron menjadi semakin tak tentu arahnya, seperti hidupmu. Semua momen yang bergerak lambat kembali hadir disini, melalui Aqua Bvlgari yang bercampur dengan aroma tubuhmu. Menghasilkan suatu paduan sempurna, menggambarkan peta perjalanan pada punggungmu—yang aku yakin tidak pernah mudah. Tentu saja disela-sela itu kita berpelukan dan saling berpagut, aroma cengkehmu ada pada nafasku.

Malam sudah sembunyi dibalik pintu, begitu juga angin bulan Maret yang kian malu menampakan wajahnya kembali. Peron mulai disibukan dengan segala aktivitas pagi yang selalu bergegas, entah untuk apa mereka semua berlari, mengejar waktu yang sebenarnya tak pernah lebih cepat dari bayangmu. Dan ruang yang tak pernah lebih luas dari sebuah peron, sebuah penantian.
**

Gambar diambil dari sini

Aku memutuskan untuk lebih lama tinggal di kota kecil ini, kini sudah bundar. Semata-mata hanya ingin menelusuri jalan-jalan yang berkerak debu, sungai-sungai yang tak sederas dulu, dan perahu kertas yang kini selalu berlari berkejaran dengan sampah plastik hitam. Tentu saja denganmu, Antonio.

“lebih baik kita makan dulu di kedai itu Na. kata temanku, bubur ayam disana enak.”
“kalau kata temanku, salahsatu (bekas) penghuni kota ini yang enak dan lebih enak dinikmati di penginapan itu, Ton.” Ia tertawa, atau lebih tepatnya menyeringai dengan mimik khasnya yang aku sendiri sebal sekaligus nyandu. Lalu kita makan bubur dan segera merapat ke penginapan tua di salahsatu sudut kota. Ia bercerita banyak hal padaku, tentang kota, gedung-gedung, demonstrasi, buku, film, perjalanan, teman-teman barunya, dan tentu saja kuliahnya di jurusan filsafat—yang sumpah mati untuk satu hal ini aku tidak mengerti dan tidak mau mengerti.

Hari-hari kita menjelma kisah sejarah masa lalu yang belum tunai digenapi, yang menyisakan rongga pada carik-carik kenangan. Kita menutupnya, kita menggenapi dengan patahan-patahan cerita yang sempat hilang di kota satu terminal tua, satu stasiun, dan satu pelabuhan ini. Sebelum akhirnya perpisahan itu harus datang kembali. Suatu pagi di kedai kopi dekat penginapan, kita memesan dua cangkir kopi tubruk arabika lampung, ditemani musik The Krogis, Everybody’s Got To Learn Sometimes yang melantun pelan melatarbelakangi kotak warna-warni yang sengaja di mute. Telepon genggam Antonio berdering mematahkan lirik lagu itu, sekaligus mematahkan sisa-sisa harapku. Ia harus kembali ke kotanya, ada urusan genting di dalam organisasinya. Pagi itu juga ia segera bergegas menuju stasiun dimana kita bertemu. Punggung lapang itu, ah Antonio. Ia menghilang bersama deru kereta, derit roda, dan angin bulan Maret yang kembali menyayat kulit-kulit punggungku, merangsek hingga rusuk belakangku.

Aku kembali asing, duduk di ruang tunggu dengan asap country dan sebotol heineken. Juga ‘rumahku’ yang paling bersetia menemani jejak-jejak langkah. Aku kembali diselimuti malam, digauli dengung purba tentang cinta yang tak pernah tunai. Mendengung dan berpuing. Kembali dibiarkan sunyi di dalam.

Ada banyak peristiwa dalam ruang tunggu yang begitu besar ini. Cukup banyak juga momen-momen yang bergerak lambat. Kadang singgah, kadang hanya melintas. Namun diantaranya kamu selalu mencatat. Aku menyusun dirimu, kamu membuat komposisi hidupku. Menandai begitu banyak peristiwa yang menyusun kesendirian dari masing-masing kita. Semuanya berpilin menjadi puing-puing yang berserak di berbagi kota yang kita singgahi.
**

Kamu masih tetap seperti dulu Antonio, hari ini angin bulan Maret sudah tidak mengepungku. Karena hari ini sudah Januari, Januari di tahun yang baru. Hampir setahun yang lalu terakhir kita bertemu di stasiun sebuah kota dengan sungai yang sudah tak sederas dulu. Di kedai kopi dengan lagu Everybody’s Got To Learn Sometimes, kamu pergi dan hingga kini tak ada kabar. Untung saja aku sempat menyimpan alamat emailmu, karena kamu tidak pernah mau dihubungi lewat telepon genggam. Aku dikepung rindu yang sudah meluber ke seluruh ruang ini, Antonio. Kemana lagi kamu Aqua Bvlgari?

Kutulis email untukmu, Antonio. Semoga kamu selalu diberkati dengan nafas yang tetap menyimpan daya hidup yang besar itu. Semoga.

“…kini aku mungkin tak punya semangat lagi untuk melanjutkan kebahagiaanku, sungai itu sudah hampir benar-benar kering. Aku sudah tak bisa mengalirkan perahu kertas, keresek hitam sudah terlalu banyak, volume airnya semakin sedikit. Entah lari kemana air itu, aku tidak mengerti. Senja ini aku akan mencoba mendatanginya sekali lagi, membuat dua perahu kertas, yang satu kutulis atas nama mu. Tolong hubungi aku sekali saja, Antonio, telepon aku! Aku ingin mendengar suaramu agar perahu ini bisa sampai di muara yang entah dengan daya hidup yang besar sepertimu” (dari: diana_pincang@yahoo.com)

“Perjalanan kita mungkin akan terhenti di stasiun berikutnya. Di suatu tempat yang benar-benar asing bagi kita. Kemudian tubuh kita tercerai berai, menguap ke seluruh sudut penantian, bergumul dengan mereka yang terduduk menanti. Kita mencatat, menyusun, memberi arti, lalu kemudian mati… Aku segera menghubungimu, Diana. Senja ini, mengantar perahu kita menuju muara segala semesta.” (dari: antonio47@gmail.com)

Aku melangkahkan kaki menuju sungai itu. Senja ini, senja keemasan di langit. Terdengar angin membisikan berita dari sebuah kota. Antonio, kamu begitu terasa dekat ketika aku berada di sungai ini. Sungguh jika hidup adalah sebentuk penantian berupa ruang tunggu, kamu merupakan ruang tunggu yang cukup nyaman untuk ditinggali.

Meskipun kini airnya sudah sejengkal. Aku membuat perahu kertas berwarna coklat untukmu, warna kesukaanmu. Dan hitam untuk perahuku. Kutuliskan namamu di perahu itu. Angin semakin kencang ketika telepon genggamku bergetar. Nomor tak dikenal, suara itu! Antonio!

ah, perahu kertas itu...
Angin bertambah kencang, membuat suara di sambungan telepon tak terdengar jelas. Aku hanya mampu mendengar suaramu “aku akan mengunjungimu besok, dikotamu…” kemudian sambungan terputus dan aku terpeleset bersama perahu kita. Badanku terpelanting diantara ranting, semak, dan bebatuan.

Sungai menjadi kemerahan, perahu kita pergi entah ke muara yang mana.
Entah.
***


Jatinangor, Ditemani kopi hitam dan Lucky Strike,
14 Maret 2012
ARF

Leave a Reply

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...