Diberdayakan oleh Blogger.
.

Terbangun Dari Tidur Lelap Selama 17 Tahun


posted by Azhar Rijal Fadlillah on ,

No comments

Saat  hipokritnya dunia kian mencengkram setiap individu untuk terjun bebas tanpa batas dalam dimensi kehidupan yang penuh dengan keindahan, kenyamanan, dan ketentraman.
Dia Hadir, menyeruak relung-relung pikiranku yang (tanpa kusadari) aku semakin terlelap nyaman dalam hipokrit peradaban. Terbuai dengan alunan melodi indah kehidupan dan dininabobokan oleh segenap rutinitas demi mencapai tujuan kesuksesan. Karena bukankah itu yang selalu dibanggakan dan dikejar hampir semua orang didunia ini, yang hampir semua orang sepakat bahwa hidup ini ya begini adanya.

Aku jadi teringat akan kalimat analogi Jonstein Gaarder dalam buku Dunia Sophie-nya.

“Tuhan menciptakan kehidupan berserta segenap elemen nya seperti seorang pesulap yang mengeluarkan kelinci putih dari dalm topi sulapnya. Alam semesta berserta seluruh kehidupan ini hanyalah kelinci putih (produk Tuhan?,entahlah) dan kita sebagai manusia hanya berada di setiap bulu-bulu halus kelinci putih tersebut. Saat lahir kedunia yang absurd ini (menurut saya sampai saat ini, memang begitu adanya) kita berada di puncak bulu-bulu halus kelinci putih, kita mempertanyakan banyak hal tentang dunia dan seluruh realitas yang kita hadapi, jika tidak percaya, cobalah lihat anak kecil yang dengan begitu polosnya mempertanyakan banyak hal. Namun seiring dengan berjalan nya waktu, kita tumbuh menjadi pribadi yang dewasa (apakah benar kita menjadi ‘dewasa’?) dan kita mulai turun perlahan ke dasar bulu-bulu kelinci putih tersebut. Setelah kita sampai di dasar, kita merasakan kenyamanan hidup, tentram,  disibukkan dengan berbagai rutinitas, hingga kita malas untuk memanjat kembali bulu-bulu kelinci tersebut. Dan bukankah itu yang sedang kita kerjakkan? menikmati halusnya bulu kelinci. Kita Lupa, bahwa diluar sana banyak sekali realitas hidup yang harus kita lihat dengan mata ‘anak kecil’. Dan ‘Dia’ Telah membangunkanku dari tidur lelap selama 17tahun ini. Mengusikku dari kenyamanan hidup yang aku dapatkan di dasar sana. Dia mengajakku untuk memanjat lagi dengan perlahan bulu-bulu kelinci itu, untuk memandang, meragukan, mengkritisi, dan mempertanyakan berbagai realitas yang ada dalam kehidupan ini. Agar memungkinkanku untuk melihat ‘dunia luar’ atau bahkan melihat Sang Pesulap?” ( Dengan pemaparan sendiri mengenai analogi “kelinci”)


Sontak aku tersentak,
Lalu selama ini apa yang aku jalani ini? Kehidupan? aku rasa bukan, selama ini aku tidaklah lebih dari mainan sulap milik Sang Pesulap.

Sejak saat itu aku mulai gelisah, mempertanyakan banyak hal dalam hidup ini, meragukan ini-itu, memikirkan hal yang selama ini tidak pernah aku pikirkan.
Aku mulai sadar dan terbangun dari tidur lelapku.
Kini, aku ingin memanjat terus bulu-bulu kelinci itu hingga puncak tertinggi dan mengatakan sekaligus berteriak pada orang-orang yang sedang meringkuk nyaman didasar sana:
“KEMARILAH WAHAI KALIAN PECUNDANG!!! DISINILAH HIDUP YANG SEBENARNYA……”

Aku bersyukur karena sesungguhnya sebelum mengenal Dia, akupun telah sering mempertanyakan banyak hal, namun seperti seorang petani yang tidak memiliki pemahaman cara bertani, ia akan tetap bertani, namun hasilnya akan begitu-begitu saja, konstan, flat.
Dengan mengenal dia, aku setidaknya telah membangkitkan kembali ‘aku’ yang seharusnya dan mengenal langkah-langkah yang harus dilakukan olehku agar tidak bernasib seperti petani itu.
Aku sadar, tidak seharusnya jiwaku tentram bersemayam dalam raga ini.

Aku ingin pergerakan yang dinamis, bukan kehidupan yang tenang. Aku merasakan didalam diriku, tumpukan energi sangat besar yang tidak menemukan penyaluran didalam kehidupan yang tenang.” (-Leo Tolstoy- dalam bukunya, “Family Happiness”)

Dengan ‘Dia’ lah aku merasakan tantangan itu,
merasakan pergumulan nalar berguncang di kepalaku setiap harinya, merasakan pertanyaan-pertanyaan mengenai berbagai realitas mengalir begitu deras setiap saatnya, dan merasakan kegelisahan yang mengombang-ambing di setiap hela’an nafasku. Dengan satu misi pasti, menemukan kebenaran.




Muncullah pertanyaan, siapakah ‘Dia’ itu? yang telah membangunkanku.
Dia adalah FILSAFAT.

Leave a Reply

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...