Diberdayakan oleh Blogger.
.

The Leap Of Faith - Konsepsi Soren Kierkegaard.


posted by Azhar Rijal Fadlillah on

No comments



     Iman, kebenaran, subyektivitas, dan ironi dalam pandangan eksistensial haruslah diletakkan pada kesatuan eksistensial. Iman selalu menyangkut Tuhan yang absolut. Tuhan bukanlah seperti seluruh pengada yang ada di alam dunia ini, Tuhan juga tidak eksis karena Ia abadi. Sedangkan dikondisi lain, manusia adalah mahluk yang terbatas pada ruang dan waktu, Manusia adalah mahluk historis. "Kondisi ini akan menjadi paradoks kebenaran ketika kebenaran abadi itu bertemu dengan individu yang bereksistensi" (Kierkegaard).

    Paradoks itu bersumber dari ketidakpastian yang obyektif. Artinya ketidakpastian itu bersumber bukan pada individu dalam proses internalisasinya, melainkan pada kebenaran itu sendiri dan bahkan hingga menyentuh "Pemilik Kebenaran". Untungnya kebenaran itu bersifat "ketidakpastian obyektif", jika kebenaran itu sudah pasti dan obyektif maka tidak perlu melibatkan personalitas individu. Hasilnya : TIDAK AKAN ADA IMAN!

    Iman kata Kierkegaard, justru berakar dari ketidakpastian obyektif. Jika Tuhan dapat dipahami dengan obyektif dan pasti, saya tidak perlu beriman/percaya pada-Nya. Namun justru karena ketidakpastian obyektif inilah saya harus beriman, Karena saya tidak memiliki landasan kokoh lainnya untuk menemukan kebenaran selain "perjudian" iman. Mungkin itulah alasan Kierkegaard melakukan "lompatan iman"(the leap of faith). Oleh sebab itu, iman sesungguhnya adalah perjudian besar! Iman mengandung risiko. Tanpa risiko, maka tidak ada iman.

    Konsep ini juga lah yang nampaknya menjadikan Kierkegaard seorang Eksistensialis (meskipun ia tidak ingin disebut sebagai filsuf eksistensialis). Dengan "lompatan iman" tersebut, manusia berserah diri pada Tuhan, yaitu pada kebenaran obyektif yang kental dengan ketidakpastian. Dalam pilihannya untuk melompat pada iman, sesungguhnya Kierkegaard telah melakuakan upaya apropriasi aktif dan menuang penuh subyektivitas kebenaran. Karena sejatinya memang itulah manifestasi subyektivitas.

    Maka bagi saya sederhana saja dalam keterpurukan dan keluhan manusia mengenai keterbatasan kodrati sejatinya manusia telah dituntun untuk menemukan "iman"nya. Karena hanya iman yang dapat menyelamatkan, meskipun mengandung banyak ketegangan dan risiko. Tapi itulah iman, sedikit mengutip kata-kata teman saya di madfal, Syarif Maulana "Iman itu seperti masuk kedalam lubang gelap". Iman memeng lubang gelap yang dapat menyelamatkan manusia dari peliknya kompleksitas permasalahan manusia dan segala keterbatasannya. Tidak perlu benar, yang penting percaya. Karena iman ya iman. Pecaya!TITIK.

Setidaknya, iman akan membantu sedikit keluar dari pelik absurditas hidup.
Sebuah tawaran perjudian yang begitu menggiurkan.......
Karena itulah, agama-agama besar yang merupakan medium menuju Tuhan dapat bertahan hingga saat ini.

Leave a Reply

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...