Diberdayakan oleh Blogger.
.

Rindu Pada Asali


posted by Azhar Rijal Fadlillah on ,

No comments


“Selalu ada kerinduan untuk kembali pada asali karena selain mendambakan nostalgia historis, itu pun akan mengingatkan siapa kita dan dari mana kah kita.”


Hilir mudik memang sudah dan selalu menjadi tradisi masyarakat kita ketika menjelang Hari Raya Iedul Fitri. Para perantau yang mengadu nasib di kota-kota besar kembali ke kampung halamannya – merindu sanak keluarga. Tak ayal hal ini membuat lonjakkan mobilitas penduduk di hari lebaran yang memiliki ekses cukup kompleks. Mereka dengan berbagai cara tersendiri mengunjungi keluarganya di kampung halaman untuk sekadar berkumpul, bercengkrama, bernostalgia, bermaaf-maafan, seraya merayakan hari kemenangan umat muslim. Tak peduli berapa kilometer jarak yang harus ditempuh, pun dengan segala keterbatasannya para pemudik itu berbondong-bondong menuju kampong halamannya – tempat mereka berasal.

Ternyata hal ini tidak hanya menuai dampak buruk kemacetan lalu lintas, intensitas kecelakaan yang meningkat tajam, hingga pemborosan materil. Mudik ini juga ternyata memberikan angin segar pada kondisi stabilitas perekonomian Indonesia. Dengan berpulangnya para perantau ke kampong halamannya, mereka secara tidak langsung membantu mendistribusikan kekayaan. Banyak sekali pihak-pihak yang diuntungkan dengan tren mudik setiap tahunnya ini, sebut saja para supir kendaraan umum, pedagang pinggir jalan, penjual oleh-oleh khas daerah, penjual makanan, penjual baju, serta sektor-sektor ekonomi rill lainnya. Hal ini mengangkat sekaligus mendistribusikan perekonomian kita yang cenderung jawa-sentris, setidaknya setahun sekali masyarakat pedesaan, perkampungan yang jauh dari ibu kota, serta daerah luar pulau jawa dapat merasakan barang-barang mewah yang notabene hanya mungkin didapatkan di kota-kota besar. Kapan lagi mereka yang berada di pelosok negeri ini dapat merasakan makanan-makanan mewah dengan citarasa tinggi, pakaian-pakaian branded, serta merasakan pertumbuhan ekonomi kita (yang katanya) selalu megalami peningkatan di setiap tahunnya. Mereka mungkin tidak akan pernah merasakannya bila budaya mudik ini tidak mewabah di Indonesia. Terlebih lagi, tren mudik ini membawa muatan nilai-nilai semangat modernitas yang dibawa perantau ke kampung halamannya. Imbasnya, masyarakat desa yang buta informasi akan termotivasi untuk bekerja dan berinovasi, lambat laun perekonomian desa pun akan menggeliat bangkit.

Namun terlepas dari ekses tren mudik, saya mencermati ada sesuatu yang menjadi motif para pemudik tersebut untuk selalu menyempatkan pulang kampung. Mereka (para perantau) ingin menunjukkan bahwa usahanya di perantauan tidak sia-sia, hal ini dapat dengan mudah kita lihat gejala nya. Lihat saja fenomena pemudik yang cenderung memaksakan pulang kampung dengan menggunakan sepeda motor, hal ini tidak serta merta mempermudah jalannya mudik, malah lebih banyak dampak buruknya. Namun ada simbolisasi kesuksesan yang perantau ingin tunjukkan pada keluargannya di kampung halaman, sebut saja motor. Selain itu memang sudah menjadi kodrat manusia untuk selalu merindukan “rumah”nya.

Mereka yang hobi travelling ke luar negeri pun selalu kembali pulang ke rumah, mereka yang berlayar hingga ke belahan dunia manapun selalu berhasrat ingin pulang ke rumah, dan manusia yang sudah nyaman hidup di dunia ini-dengan segala glamouritasnya pun akan kembali pada asali, pada Tuhan-nya. Mungkin memang ada semacam pattern pada jiwa manusia yang selalu rindu untuk pulang. Untuk berkaca siapa diri kita dan dari mana kita berasal. Kemudian kembali pada asali dengan kebesaran jiwa.


Every day there’s a boy in the mirror asking me what are you doing here,
Finding moment, previous motifs
Growing increasingly unclear
I travelled far and I burned all the bridges
I belived as soon I hit land
All the other options held before me
Wither in the light of my plan

A song for someone who need somewhere
to long for…..
Cause I no longer know, where home is.
(“Homesick” –King of Convenience-)


Cibiru,
16 September 2010
Azhar Rijal Fadlillah

Leave a Reply

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...