Diberdayakan oleh Blogger.
.

George Wilhelm Friedrich Hegel


posted by Azhar Rijal Fadlillah on

No comments

TRIADIC DIALEKTIKA MERUPAKAN RITME SELURUH REALITAS
(George Wilhelm Friedrich Hegel 1770-1831)
T.Z. Lavine “From Socrates to Sartre: the Philosophic Quest” New York, 1984


Belakangan, nalar dwi polar mengusik resah
Setelah sekian lama terkubur
Kini bangkit kembali merebut sebelah mataku,
Menggunakannya kemudian mengajarkanku bagaimana melihat dunia….
-ijal-


Dialektika merupakan salah satu konsep filsafat tertua. Konsep ini muncul pertama kali pada masa pemikiran Yunani Kuno lebih dari lima ratus tahun sebelum Socrates. Ini merupakan teori empat elemen dimana realitas tersusun atas bumi dan udara serta elemen yang saling berlawanan secara konstan yaitu api dan air. Mendekati masa Socrates, Heraclitus menulis bahwa semuanya berselisih, semuanya menjadi lawannya. Socrates sendiri mengartikan dialektika dengan penggunaan argumen untuk membuat lawan berkontradiksi dengan dirinya sendiri dalam hal metode (inilah metode dialog Socratik yang melegenda itu). Aklibatnya, Socrates kemudian memutuskan kontradiksi tersebut dan bisa mencapai kebenaran definisi suatu konsep. Dalam buku Republic, Plato sebagai murid Socrates mengartikan dialektika sebagaimana yang kita tahu, tingkatan tertinggi pengetahuan, sebuah tingkatan dimana perlawanan atau kontradiksi bisa diatasi. Plato mengatakan bahwa dialektika merupakan sesuatu yang setiap bentuknya diketahui dalam kebenaran sejatinya, dan semua bentuk diketahui dalam suatu hubungan satu dengan lainnya serta ide Tuhan. Kini, Hegel merupakan seorang ahli dalam dialektika. Dia memasukkan Heraclitus, Socrates, dan Plato dalam teori dialektikanya yang berkembang sempurna, ambisius dan kuat yang pernah dirumuskan.
Apa yang dimaksud dialektika dalam perspektif Hegel? Dialektika, katanya, merupakan suatu penyatuan lawan-lawan. Setiap konsep, seperti yang kita pikirkan, menunjukkan pada kita batasannya dan membawanya masuk kedalam perlawanan, menegasi dirinya. Sebagai hasilnya, dialektika dalam pandangan Heraclitus, konflik, polaritas, atau kontradiksi mengkarakteristikkan semua pemikiran manusia.
Misalnya, dalam setiap konsep yang dihadapkan pada perlawana, kita bisa berpaling pada Heraclitus dalam filsafat Yunani Kuno dan klaimnya bahawa semua berubah. Konsep-konsep Heraclitus sesekali dikembalikan, mulai menunjukkan batasan diri, melewati, lalu masuk ke wilayah lawan beratnya dalam klaim Parmenindes yang menyatakan tidak ada sesuatu yang berubah, realitas tersebut selamanya apa adanya. Kita kemudian melihat lawan dialektika, konflik, kontradiksi atau polaritas di antara Heraclitus dan Parmenides.
Hegel memberi label untuk konsep Heraclitus dengan nama Tesis dan untuk nama konsep kedua milik Parmenides dengan sebutan Antitesis. Namun kemudian Hegel menunjukkan bahwa konflik antara tesis dan antithesis ini bisa diatasi. Ketika kita memikirkan konflik itu, akhirnya muncul pemikiran tentang suatu konsep baru yang akan meredam masalah, menyatukan konsep yang berlawanan, menyimpan sesuatu yang benar dan berharga dari masing-masing mereka. Konsep ketiga Hegel ini dinamakan Sintesis. Filsafat Plato memberikan sintesis untuk tesis Heraclitus dan antitesis Parmenides. Plato menahan konsep perubahan milik Heraclitus, tetapi membatasinya untuk dunia nalar. Plato mempertahankan konsep tanpa perubahan milik Parmenides namun membatasinya untuk dunia pemikiran. Plato menggabungkan atau mensintesiskan tesis dan antitesis melalui kebaikan mereka dalam filsafatnya sendiri yang lebih lengkap, lebih benar dari pada kedua konsep tersebut.
Disini kita memiliki diagram dasar teori dialektika milik Hegel. Dialektika merupakan sebuah proses yang memiliki tiga langkah atau bagian. Untuk alasan tersebut tiga langkah dalam teori ini disebut Triadic. Proses tersebut berjalan melalui proses pertama yaitu tesis kemudian antitesis yang bernegasi, berlawanan atau saling kontradiksi dengan yang pertama (tesis). Kemudian perlawanan ini diatasi dengan sebuah tahap atau tingkatan ketiga (sintesis) yang muncul sebagai suatu kebenaran yang lebih tinggi yang melebihi keduanya. Sintesis memiliki tiga fungsi:
1.      Menunda konflik antara tesis dan antitesis
2.      Menyimpan elemen kebenaran dari tesis dan antitesis
3.      Mengungguli perlawanan dan meninggikan konflik hingga mencapai kebenaran yang lebih tinggi
Proses triadic ini, menurut Hegel, tidak terbatas pada sejarah filsafat. Jauh dari itu. Bagi Hegel, dialektika yang mempunyai tiga proses merupakan ritme seluruh realitas. Kebenaran konsep rasional yang berada di seluruh area pengalaman manusia dan pengetahuan tidaklah statis, tetapi bergerak secara dialektis dari tesis melawan antitesis kemudian sintesis. Bahkan lebih jauh lagi, sintesis pun akan kembali dipandang sebagai tesis yang segera setelahnya memunculkan antitesis baru dan selanjutnya menghasilkan sintesis baru pula, hal itu akan terjadi (berdialektis) terus menerus, menjadikannya tetap abadi sebagai konstruksi kokoh peradaban yang diciptakan manusia.
Jika kita bandingkan teori dialektika Hegel dengan teori milik Plato, kita akan menemukan beberapa perbedaan: (1) Bagi Plato, dialektika merupakan level tertinggi pengetahuan yang memiliki tujuan menghilangkan kontradiksi;  untuk Hegel, kontradiksi tidaklah mungkin bisa diatasi. Pemunculan kontradiksi, perlawanan dan sintesis mereka, dalam pandangan Hegel merupakan suatu sifat pemikiran rasional dan itulah yang dinamakan realitas (ingat! konsep Hegel “Kenyataan adalah hal rasional dan hal rasional merupakan kenyataan” –kenyataan baca: realitas). (2) Bagi Plato, dialektika menghasilkan kebenaran abadi, statis dari bentuk-bentuk; sedangkan bagi Hegel, dialektika menghasilkan perubahan secara dinamis konsep-konsep kebenaran. Hegel menawarkan pada kita sebuah pandangan nalar dialektika, bergerak secara dinamis melalui tekanan, perlawanan, konflik, polaritas, kontradiksi melalui sebuah resolusi sintesis. Pandangan Hegel tentang nalar dialektika berbeda dengan nalar Plato yang memegang bentuk-bentuk murni dalam identitas mereka dan saling keterkaitan antar-mereka; dari model nalar matematis Descartes yang berintuisi pada aksioma pembuktian diri dan mengurangi kesimpulan penting; dari teori pencerahan tentang dua bentuk penalaran, ilmiah, analitis dan mengatur alasan Newton dan “cahaya alam”, nalar intuitif Locke. (3) Bagi Plato, dialektika menghasilkan bentuk-bentuk atau ide-ide yang rasional dan batasan waktu, tidak berawal dari dunia nyata namun dari dunia pemikiran, dan mewakili bidang kebenaran. Namun menurut Hegel, kebenaran konsep tetap ada dan benda tampak, dalam perubahan proses dunia, dan terikat waktu. Kemudian apakah hal tersebut tidak mengikuti pemikiran absolute yang berisikan kebenaran konsep, bukan sebagai suatu bidang kebenaran, namun memang terikat, tetap ada, mengubah proses dunia dan waktu? Kemudian bagaimana Hegel menjelaskan pemikiran absolute sebagai Tuhan, absolut, atau totalitas? Tidakkah Hegel mengurangi pemikiran absolut pada parsial, tidak lengkap, menyusun pemikiran tentang pikiran benar-benar tebatas? Bagaimana parsial ini mengubah kebenaran batas bisa disebut Tuhan?


Hegel dalam hal ini tetap ambisius,
mungkin secara sengaja….
Agar kelak sintesisnya dijadikan tesis baru, dilawan antitesis oleh para filsuf setelahnya.
Kemudian menciptakan sintesis baru dan berulang terus menerus.
Seperti itulah mekanisme dan ritmik pergerakan realitas tempat kita bernafas ini.

Absurd? Ah tidak juga!
Setidaknya kita dapat memberikan sedikit warna bagi sintesis baru
dan lebih jauh lagi dapat menyadari, Manusia selalu terikat, terkutuk!!
Oleh Waktu dan keterbatasan…..


Azhar Rijal Fadlillah
Bandung, 21 Agustus 2010

Leave a Reply

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...