Diberdayakan oleh Blogger.
.

Unidentified doesn't mean Unexist; Menyoal Fenomena UFO (Crop Circle) di Sleman- Jogjakarta


posted by Azhar Rijal Fadlillah on ,

No comments


 “Jika Tuhan dapat dibedah diatas pisau bedah, niscaya semua umat beragama akan meninggalkannya” 

Belakangan ini masyarakat Indonesia dihebohkan dengan adanya penemuan “Crop Circle”  yang disinyalir oleh sebagian pihak sebagai jejak UFO (Unidentified Flying Object). Tak ayal hipotesis prematur ini mengusik para ilmuwan terkait (dalam hal ini LAPAN) untuk angkat bicara. Mereka menduga kemunculan Crop Circle yang berada di Sleman- Jogjakarta ini jelas bukan merupakan jejak dari UFO. Hal ini disebabkan tidak terdapatnya bukti-bukti fisik lainnya yang dapat menunjang argumen  tersebut, sebut saja pengaruh medan magnet, suara bising, ataupun jejak-jejak lainnya yang seharusnya tertinggal bila memang UFO tersebut lah yang menyebabkan terbentuknya Crop Circle ini. Lebih lanjut lagi, salah seorang peneliti LAPAN menegaskan bahwa secara astronomi dan sciencetific keberadaan UFO ini tidak pernah terbukti keilmiahannya, dengan begitu dapat dinyatakan bahwa UFO memang tidak ada.

Jika berbicara fenomena UFO secara ilmiah tentu bukan merupakan kapasitas saya, maka pada saat ini saya akan memandangnya melalui kacamata filosofis- metafisik. Saya katakan metafisik karena memang hal yang sedang dibicarakan ini merupakan wujud non-fisik (human being)- setidaknya hingga saat ini. Jelas dari penamaannya saja sudah menjelaskan begitu gamblang bahwa fenomena UFO ini merupakan tema transenden. Ketika suatu objek yang tertangkap (tercerap) oleh indera manusia tidak secara utuh maka disebutlah “Unidentified” (Tidak teridentifikasi) bukan berarti tidak ada (Unidentified not mean Unexist). Ketika “batu” kita katakan tidak ada, maka sebelumnya kita harus terlebih dahulu mengenal konsep “batu”. Tidak mungkin kita menegasikan (menihilkan) sesuatu yang sebelumnya tidak pernah ada. Bagaimana mungkin kita mengatakan bahwa batu tersebu tidak ada sementara sebelumnya kita tidak pernah mengenal konsep tentang batu. Ini berarti juga bahwa UFO tersebut belum terjangkau, bukan lantas serta merta kita simpulkan tidak ada. Inilah yang lebih lanjut kita kenal dengan hal-hal “transenden”.

Ada beberapa kemungkinan mengenai transendensi tersebut, yang pertama mungkin karena keterbatasan bahasa yang tidak mampu metransformasikan realitas murni ekstralinguistik sang UFO tersebut (meminjam istilah Bambang Sugiharto dalam Postmodernisme; "bahasa tidak mampu merepresentasikan realitas murni ekstralinguistik." Maka dari itu bahasa hanya mampu mentransformasikan realitas- melalui kemiripan dengan konsep-konsep yang dipahami; metafor). Dengan keterbatasan tersebut, kita lantas menyebutnya sebagai sesuatu yang transenden-tidak terjangkau.

Kedua, adanya “Grand Narrative” (yang sebenarnya sudah runtuh sejak dekonstruksi besar-besaran di era postmo) mengenai “Rasionalitas”. Anggapan dasar masyarakat umum (common sense) mengenai “rasionalitas” selalu mesti terbentuk secara ilmah, dengan penalaran dan logika ketat. Implikasinya jelas, jenis-jenis logika lain; Mistisisme, takhayul, okultisme, dan hal-hal semacamnya dianggap “Irrasional”. Hal ini terbentuk melalui proses internalisasi pendidikan institusional yang memang hanya dimiliki oleh pola penalaran logika ilmiah, sementara yang lainnya tetap dianggap sebagai “irrasional”  karena tidak mendapat sokongan konstruksi institusi pendidikan. Hasilnya, logika-logika lain non-ilmiah dianggap tidak mampu menjelaskan realitas- terlebih lagi dikatakan masih tradisional dan perlu dilestarikan keberadaanya hanya sebagai “kearifan lokal”. Andai saja logika-logika lain tersebut memiliki institusi pendidikan formal seperti logika penalaran ilmiah, pasti akan menghasilkan rasionalitas baru karena jika kita berbicara rasionalitas, kita akan selalu berkutat dengan “konvensi” (selanjutnya melalui pembiasaan) yang dibutuhkan untuk mendukung pola logika agar dianggap rasional. Rasional itu bukan berarti benar, karena rasional hanya yang “masuk akal” dan “kemasukakalan” ini (Reasonable) dimungkinkan dengan internalisasi bertahap pada diri manusia.  Maka rasional tidak selamanya benar, ini hanya persoalan; rasio kita dididik dimana. Jika kita terbiasa dengan lingkungan yang memuja pohon sebagai dewa nya, maka hal tersebut rasional bagi kita (dengan pola logikanya tersendiri), tapi bagi manusia yang berada diluar lingkungan tersebut akan mengatakannya sebagai tindakan “irrasionalitas”. Wajar saja bila peneliti dari LAPAN (yang notabene merupakan golongan ilmiah) mengatakan bahwa UFO tidak mungkin ada karena eksistensinya yang tidak rasional. Yang saya tidak mengerti (dengan catatan jika beliau beragama) mengapa ia masih saja menyembah Tuhan yang eksistensinya tidak rasional? Karena toh untuk beriman pada Tuhan dibutuhkan pola penalaran dan logika lain, Ia akan dianggap rasional bila kita melihatnya dari logika lain non-ilmiah.

Maka bagi saya terasa terlalu dini untuk menyatakan bahwa yang “Unindentified” itu berarti “Unexist”. Sama hal nya seperti kaum Atheist yang terlalu dini menyatakan bahwa Tuhan tidak ada, tidak terjangkau bukan berarti tidak ada dan tidak mesti juga selalu pasti existensinya. Kelak, ada potensi manusia untuk menjadikan yang transenden tersebut menjadi objek yang “nyata” dan “dekat” dengan kehidupan kita.

Kita tunggu saja, segala kemungkinan selalu terbuka di dalam realitas serba mungkin ini.

Gambar diambil dari sini
























Azhar Rijal Fadlillah
Lembang, 25 Januari 2011


Leave a Reply

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...