Diberdayakan oleh Blogger.
.

Amor Fati, Ego Fatum.


posted by Azhar Rijal Fadlillah on ,

1 comment


*Sepenggal karya sebagai ucapan terimakasih pada Madrasah Falsafah


"Amor Fati, Ego Fatum"
Nietzsche

Mencintai takdir, karena aku adalah takdir.

gambar diambil dari sini


Sepenggal kalimat dari filsuf si kumis baplang itu menyeret motif ku untuk melantangkan suara; mengatakan "YA!" pada dunia. Mengatakan YA pada kesedihan, mengatakan YA pada kesenangan, mengatakan YA pada kekecewaan, hingga mengatakan YA pada kematian. Apapun yang kiranya menjadi jalan hidup memang semestinya dijalani, namun perlu dipertimbangkan juga ucap Socrates; "Hidup yang tidak dikaji, tidak layak dijalani."  Untuk mengkajinya, diperlukan semacam ''Will to Power" (Istilah Nietzsche) atau kehendak untuk berkuasa- kehendak untuk menciptakan jalan sendiri seraya menapakinya perlahan agar terlihat dimana lubang yang mesti ditambal.

Meski kita tidak pernah tahu, jangan-jangan ada tangan-tangan Kuasa yang selalu mengusik jalan kita, membelokkan arah kita. Bagi sebagian orang, hal ini dianggap "ya inilah yang terbaik" tapi bagi sebagian lainnya ini merupakan ancaman eksistensial. Sebuah ancaman kehendak untuk berkuasa, toh jika kuasa atas hidup sudah hilang, maka tidak ada artinya lagi menjejakkan kaki di tanah derita ini, bukan?. Umberto Ecco Pernah bilang; "Mawar sudah ada sebelum ada namanya". Jelas meski semua sudah tercipta, tapi manusia lah yang selalu menghadirkan realitas bentukkan, menjadikannya dekat dengan keseharian. Bahasa mengambil andil dalam hal ini, menjadikan realitas sesuai dengan maunya kita- dengan batas yang mampu kita pahami. Manusia lah yang mencipta semua nya, melalui pemilahan fragmen-fragmen konstruk linguistik dihasilkan lah kesadaran kita terhadap realitas. Maka "Will to Power" memang sudah sepantasnya hadir dekat dengan motif-motif keseharian kita untuk menentukan ciptaan apa selanjutnya.

Jika bercerita tentang penciptaan, maka akan selalu terhubung dengan kesan-kesan terdahulu. Apa yang menjadi pilihan kita saat ini tidak akan dapat terlepas dari kesan-kesan yang diterima sebelumnya. Sebagai ilustrasi, ketika dihadapkan pada pilihan untuk membunuh atau melarikan diri, kita akan dibenturkan pada kesan-kesan terdahulu mengenai konsep "membunuh" dan "pelarian" (dan masih banyak lagi, karena kesan yang membentuk kita hingga hari ini sangat lah kompleks- terlalu rumit untuk dituliskan) lalu kita memutuskan untuk membunuh. Itu berarti ada kesan (meski secara implisit dan tidak disadari) yang mendorong kita untuk melakukan tindakan itu, bahkan tindakan spontanitas sekalipun selalu dihadapkan pada pemilahan dan pemilihan terlebih dahulu hanya saja kita tidak pernah menyadarinya. Semenjak kecil kita sudah dihadapkan dengan pembentukan tanpa kompromi dan diskusi terlebih dahulu, sebut saja keluarga. Adakah diskusi sebelum kita memilih ingin di didik seperti apa? Padahal masa kanak-kanak itu merupakan sosialisasi primer yang paling membentuk diri kita hari ini. Seluruh rangkaian kesan itu akan membawa kita menjadi manusia hari ini, jika konsepnya seperti itu, pertanyaan yang muncul; dimanakah kehendak untuk memilih?

Saya percaya, diantara serangkaian sebab itu selalu ada momentum untuk melompat pada "kemurnian pribadi". Sebuah momentum untuk menjadi apa yang kita mau, memang selalu ada sebab maka yang terpenting adalah pemilihan sebab yang baik, karena sebab tersebut akan menjadi akibat dan akibat itu akan menjadi sebab selanjutnya. Melompatlah!

Begitupun tulisan ini, hadir bukan tanpa sebab. Madrasah Falsafah kali ini yang menjadi sebabnya- memang ia selalu menjadi sebab karena setiap kepulangan, para peserta dialog selalu dibekali masalah, bukan solusi. Madfal hanya bidan yang selalu berupaya membidani lahirnya pengetahuan baru (bagi saya; kesadaran baru) yang hadir dari dalam diri masing-masing. Maka jika berkunjung ke Madfal, jangan harap anda akan mendapatkan sekumpulan defiinisi-definisi yang membuat otak beku. Lahirkan sendiri, kami bidannya!

Akan melahirkan apa?
Kita sendiri yang menentukan.
Amor fati, ego fatum.



Philein Z.A
Lembang, 27 Januari 2011

1 comment

Leave a Reply

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...