Diberdayakan oleh Blogger.
.

pekakpekak pasar


posted by Azhar Rijal Fadlillah on

No comments

batubatu menghajarku. tepat di depan mataku terkena tinju.
juga lautan yang tampak semakin membiru, tidak hanya haru.
di langit masih ada camar,
teriakkan beritaberita gembira. semua mendengarnya sebagai derita.
itu tak lantas membawa kabar duka, aku cukup peka.
langit dan camar kan bukan pabrik, ia pasar.
bahkan ketika bulu babi menusuk telapak kaki, mereka merayumu.
belilah kami...
akan kah mereka memberi diskon?- ya seperti riuh akhir pekan, banting harga!
berebut lapak, tarik menarik. untuk hatimu.

aku pulang dengan tangan kosong, hanya harap yang tersisa.
tak ada yang dibeli, karena tak mampu membeli..
ku sempatkan menoleh, bujuk rayu terus bernyanyi.
lagu purba.
ah! apakah memang semua tawaran menyajikan dan mengakhiri dengan kesegaran?
berkata sangat apa adanya?
mungkinkah mereka tak hanya ingin dibeli?
pun aku rasa, perlu dipahami, ingin dipelajari.
ikan segar pun tak menjanjikan apa-apa.
bau nya akan tercium segera setelah tiba di dapur.
ya seperti biasa; premis hukum pasar.
konklusi dibuat samar.
menjadi muna, mengingkari anyir jiwa.

muak bukan?
itulah sebabnya aku lebih suka pabrik.
ikan di tangan nelayan, camar didekapan induknya, langit bernaung pada semesta.
biarkan aku membeli dari sana. menikmati jujurnya pengalaman, hingga pekak pekak pasar dapat kuterima.
---

Pasar punya dinamika yang jelas, dengan impetus-impetus nya.
tak mengada, hanya berada.
seperti camar yang mengangkasa di langit semesta.



12 Feb'11
tiga.pagi

melihat aku mewujud diluar aku



















Siliwangi, Bandung
Dienz - Philein, Z.A

Leave a Reply

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...