Diberdayakan oleh Blogger.
.

Agama Dewasa ini; Ironi Kebangkitan Religiusitas


posted by Azhar Rijal Fadlillah on ,

No comments


Agama Dewasa ini; Ironi Kebangkitan Religiusitas
Oleh: Azhar Rijal Fadlillah
Editor: Dini Zakia

gambar diambil dari sini

Masyarakat pada umumnya meyakini bahwa millennium ketiga ini ditandai dengan bangkitnya kembali kehidupan religius, seringkali abad ini disebut sebagai abad post-sekular, abad dimana sekularisme atheistik dianggap tak lagi meyakinkan dan tidak dapat lagi digunakan sebagai kerangka pandang. Hal ini disebabkan runtuhnya grand narrative dan ideologi-ideologi besar yang menjadi pilar-pilar peradaban. Sementara itu, dunia sains sendiri -- yang awalnya dipercaya paling mampu melakukan pendekatan pada realitas murni telah sampai pada fenomena-fenomena yang berkaitan dengan eksistensi suatu intelegensi kosmik transenden-– kini hanya dirasakan menawarkan kekosongan batin, kegelapan eksistensial, jauh dari kedekatan dengan realitas murni (realitas ekstralinguistik). Persoalannya kembali pada bahasa sebagai medan penerjemah realitas. Belum lagi modernitas yang semakin hari semakin mempertontonkan sisi paradoksnya.

Manusia millennium ketiga kini diambang kegamangan, kikuk mencari pegangan. Dimana kondisi yang seperti ini menjadikan agama berserta kehidupan religius bangkit sebagai penolong (big brother?) yang akan menyelamatkan manusia dari kehidupan tanpa pegangan, dari kehidupan batin yang gelap dan kosong. Layaknya tesis Feueurbach mengenai eksistensi Tuhan, ketika manusia merasa dirinya serba terbatas, maka ia menciptakan representasi mahluk (zat, atau apapun itu namanya) yang lebih agung, luhur, dan tidak terbatas yang kemudian kita namai sebagai Tuhan. Hal ini dimaksudkan untuk menyelamatkan manusia dari kecemasan menghadapi dunia seorang diri, tanpa penolong. Dilihat dari sudut pandangnya, kita dapat melihat bahwa Tuhan merupakan proyeksi ke-Maha-an dari manusia.
Berangkat dari persoalan di atas, lantas kita seringkali mematut-matutkan segala sesuatu dengan Tuhan. Manusia menjadi semakin rendah, potensi yang sebenarnya menumpuk kian terkubur, pun keberadaan dan peran Tuhan semakin dapat dipertanyakan, apalagi keabsahannya. Kondisi seperti ini tidak lebih dari kondisi penistaan terhadap Tuhan, pemberhalaan zat maha agung.

Bersamaan dengan bangkitnya religiusitas, agama-agama justru tampil dengan penuh persoalan. Ironis memang, agama bagaimanapun adalah produk dari perkembangan kesadaran bangsa manusia. Kini, dalam periode modern bagi agama, kehidupan religius dikonstruksikan menjadi rangkaian kesadaran logis, semua serba dirasionalkan. St.Agustine telah membuktikan ketika ia mencoba menalar eksistensi Tuhan melalui berbagai argumentasi logisnya, tidak bertahan lama, semua dapat dipatahkan. Bagaimanapun juga agama, Tuhan, dan religiusitas mestilah hadir dalam ruang pertemuan spiritual, mengundang iman dalam transendensi persoalan.

Dalam periode “Modern”, agama-agama mengalami pembakuan doktrin dan pembentukan jaringan institusi dengan tujuan menyebarkan ajarannya. Pada tahap ini agama banyak berfokus pada perkara struktur. Struktur ajaran dalam rupa pernyataan (preposisi) verbal maupun wacana menjadi penting,  juga struktur organisatoris mengalami perluasan dan perumitan. Agama menjadi “logo-sentris” atau sangat nyinyir dalam soal kalimat atau konsep dan akrab dengan struktur-struktur kekuasaan. Etos yang menghidupinya adalah etos “tanggung jawab” sebagai “pemegang kebenaran paling murni”, tanggung jawab atas keselamatan bangsa manusia, tetapi persis karakter-karakter yang terakhir itulah yang juga menyebabkan agama saat ini menyandang banyak persoalan, yang tersingkap kini justru ketika situasi jaman menyeret agama ikut menjadi salah satu primadona juga.

Adalah idealisme tentang “tanggungjawab” itu yang juga telah sempat melahirkan kolonialisme serta berbagai tendensi ke arah penindasan dan kekerasan (perang, perbudakan, terorisme, dll). Ketika preposisi tertentu “disucikan” sebagai doktrin, yang lain tentu saja dianggap (mutlak) salah. Agama otomatis mendefinisikan tentang apa yang secara moral benar dan apa yang salah, apa yang dianggapnya “kodrat”, apa yang bertentangan dengan kodrat. Hal ini dengan mudah membawa konsekuensi bahwa segala ajaran lain yang bertentangan dengannya akan dicap sebagai tidak sesuai dengan “kodrat” kemanusiaan yang dikehendaki Tuhan, maka umat pengikutnya pun bisa dianggap sebagai setan, ancaman berbahaya terhadap kemurnian, dan akhirnya perlu ditaklukan, dibasmi, atau dianggap saja warga kelas dua. Semangat mencari kebenaran murni yang tunggal dan penyucian ajaran itu justru ada karena rasa “tanggungjawab” itu. Berbagai peperangan dan kekerasan religius selama ini adalah manifestasi paling grafis dari tendensi tersebut. Semakin bersikukuh mencanangkan “kemurnian” kebenaran dan tanggungjawab, semakin besar tendensi agama-agama ke arah kekerasan.. Dan konsekuensinya : justru semakin tak meyakinkanlah konsep mereka tentang Tuhan bagi intelegensi jaman.

Alhasil, tendensi politis merasuki tubuh agama. Yang “liyan” dianggap berdosa dan mesti dimarginalkan, ditindas, ataupun sekadar disadarkan pada doktrin agama yang dianut, pada kebenaran tunggal. Memang, tidak dapat dipungkiri bahwa hal tersebut menjadi lumrah ketika kita membicarakannya dalam konsep agama, dalam ranah “kepercayaan”. Namun justru disitulah letak persoalannya, agama menjadi kian politis dengan wajah seram dan muram terhadap “yang lain”.

Fundamentalisme yang dengan membabibuta memeluk sistem doktrin, ritual maupun institusi, seringkali karena panik dan tidak mampu menghadapi kemelut dunia yang sedang berkecamuk dalam aneka perubahan yang memang membingungkan. Makin terasa kacau dunia ini, makin kuatlah tendensi ke arah fundamentalisme, makin kerdil martabat agama. Jaman ini memang ditandai dengan demikian banyak paradoks. Agama-agama besar , bila hendak dianggap masih berarti bagi peradaban, perlu menghadapi berbagai persoalan multidimensi itu. Diperlukan semacam redefinisi, pemahaman-diri baru: mesti dipahami sebagai apa sebenarnya agama-agama itu. Jika tidak isu kebangkitan agama hanya akan merupakan ilusi egosentris yang kosong dan naïf.
***

Sekilas, duduk persoalan agama dewasa ini oleh Bambang Sugiharto dalam teks kuliah “Extension Course Filsafat UNPAR”, 24 Desember 2010:

Tentang agama. Dalam konteks peradaban sesungguhnya agama tetaplah bisa dilihat sebagai oasis yang mampu menyuburkan sisi-sisi terbaik manusia, sebagai “the mind in all the mindlessness of the world” atau “the heart in the heartless world”. Tapi juga sebagai upaya yang tak pernah berhenti untuk mewujudkan cita-cita luhur yang “tak mungkin” sampai menjadi mungkin. Sayangnya itu semua sering terkubur oleh antusiasme berlebihan yang membabi buta, oleh kesempitan wawasan, oleh krisis identitas, oleh nafsu kekuasaan, atau pun egosentrisme kekanak-kanakan. Dan dengan itu agama malah justru menjadi bahaya laten paling destruktif bagi peradaban. Perguruan tinggi, terutama yang menyandang nilai-nilai agama secara eksplisit, perlu ekstra waspada terhadap ironi-ironi yang kerap tak disadari itu.
Iman bukanlah hanya perkara perasaan dan hati. Antusiasme perasaan yang berlebihan bisa berdampak keluar ngawur dan mengerikan, apalagi bila agressi dihayati sebagai kesalehan. Dalam berhadapan dengan kompleksitas kehidupan dan peradaban , iman perlu juga dijernihkan dan dimatangkan oleh akalbudi. Hati dan perasaan pun perlu diasah dan dididik oleh penalaran. Meksipun sebaliknya juga benar. Tapi yang lebih pokok lagi barangkali adalah bahwa iman itu soal perbuatan, bukan perkara institusi atau pun proposisi (dogma). Dan agama, dogma atau pun kitab suci jelas bukanlah Tuhan itu sendiri. Perguruan tinggi , yang senantiasa mencari kebenaran, mesti selalu berani meletakkan Tuhan -sang kebenaran itu- sebagai sesuatu yang masih perlu dicari. Keyakinan berlebihan bahwa kebenaran ilahi sudah ada ditangan mudah sekali membuat kita merasa mampu membaca pikiran Tuhan. Dan itu hanya satu langkah untuk menganggap diri kita Tuhan itu sendiri, lantas dengan mudah kita mengadili dan menghukum yang lain.
***

Maka benar barangkali apa yang dikatakan Goenawan Mohamad:
“….maka, lebih baik kita hidup dengan keterbatasan karena bahasa. Dengan kata lain, hidup dengan janji: kelak ada Makna Terang yang akan datang– betapapun mustahil. Hidup dengan janji berarti hidup dalam iman, tapi bukan iman pada Tuhan yang telah selesai diketahui. Ini iman dalam kekurangan dan kedaifan- ikhtiar yang tak henti-hentinya, karena Tuhan adalah Tuhan yang akan datang. Tuhan dalam ketidakhadiran.”
-Caping Edisi 6 Oktober 2007; “Tentang Tuhan yang Tak Harus Ada”-



Siliwangi, 18 Maret 2011
Azhar Rijal Fadlillah
Dini Zakia

Leave a Reply

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...