Diberdayakan oleh Blogger.
.

19; menua-memoar hari lahir


posted by Azhar Rijal Fadlillah on ,

No comments


(sementara waktu terus bergelayut pada nadi ruang)
...dan waktu yang terberi.
aku masih terduduk di bangku taman. berpendar sinar kemuning.
bersandar lelah pada bangku kayu berlumut, menciumi jengkal-jengkal maut.
menghiasnya dengan nanar di mata.
mereka mengira ini pesta.
aku menua.


(sementara waktu terus bergelayut pada nadi ruang)
dedaun sikamor rontok kemayu satu per satu, lemah gemulai.
juga ranting lapuk menghujam genangan bulirbulir pasukan air.
lamat-lamat meninggalkan aroma tanah yang bunting oleh hujan.
melahirkan sepi yang pincang.
puncak ekstase. senja kala tak bertuhan.
mereka mengira ini pesta.
aku menua.


(sementara waktu terus bergelayut pada nadi ruang)
aku pulang. merindu ranjang. lelah terbayar lunas.
ah tak lama...
nama-nama berselang bersahutan mengetuk daun pintu.
bersorak menawarkan candu.
aku hanya mampu menatap lirih di ketiak jendela.
urung membuka pintu.
lebih baik menuju dapur. menanak bulir anak padi.
menjerang air, menuang kopi, menyulut sebatang rokok.
berdusta pada sepi.
sepi yang tabu. tak hendak bicara.
mereka mengira ini pesta.
aku menua.


(sementara waktu terus bergelayut pada nadi ruang)
ku sulut (lagi) sebatang rokok.
tepat di muka malam.
malam yang berdusta, berselingkuh dari senja.
pun lenguh lolong anjing juga pentolan tiang listrik memekakkan telinga.
penanda malam semakin pucat.
menghampar kelam langit gelap.
persis memayungi kuburan tua.



...pendar sinar mendirikan malam, tepat di atas rumah berupa tanah.
aku masih merapal doadoa di pucuk jendela.
ringkih penuh dosa.
larung dalam tua.
lalu menjadi bangkai di gerayangi ulat.
di dalam rumah berupa tanah.


apa yang tersisa untukku?




Philein, Za
Siliwangi, Maret'3 -2011

Leave a Reply

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...