Diberdayakan oleh Blogger.
.

jejak-jejak patah


posted by Azhar Rijal Fadlillah on

No comments

I
ada tubuhtubuh pendahulu
melindap dibalik kepik riwayatmu.
sesekali muncul, bayangnya.
mengusap debu di tiangtiang masa yang lalu.
aku mengabu,
katupkatup jantung menderu. debar tak tentu,-


sejak hujan telah reda,
cangkir kopi menyisakan saripatinya; mengendap jauh di dasar.
penanda pesta telah usai.
bersamanya, pesta telah usai,-


"mereka bilang pesta telah usai, lalu mau apa lagi?"


sejak lampulampu dimatikan,
ketiadaan suara dan gerak yang total, kesenyapan.
pada akhirnya hanya ketakutan yang mampir.
jerit lengking patahpatah.
melunasi lengang yang panjang,-




II
dindingdinding mulai meletakan jemarinya pada bayang.
aku masih terdiam,
menanti malam melipat wajahnya.


"...sayang, belum tiba kah pukul tigapagi itu?"
-aku masih terdiam,
menanti malam melipat wajahnya.



"...sayang, belum tiba kah pukul tigapagi itu?"
-aku masih terdiam,
menanti malam melipat wajahnya.

"...sayang, belum tiba kah pukul tigapagi itu?"
-aku masih terdiam,
menanti malam melipat wajahnya.

"...sayang, boleh kah kupercepat jarum jamnya?"
aku tidak lagi terdiam,
kini tangis panjang,~



Tobucil, 1 Mei 2011




Leave a Reply

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...