Diberdayakan oleh Blogger.
.

Surat dari Athena,-


posted by Azhar Rijal Fadlillah on

2 comments


"A man who dares to waste one hour of time has not discovered the value of life." 
-Charles Darwin


Aku masih menikmati masa kemalasan- masa dimana aku dapat terjaga sampai larut malam, menegak botol bir atau kopi hitam bersama kepulan asap rokok tanpa sesuatu apapun yang harus benar-benar aku kerjakan. Pagi harinya (lebih tepat siang) aku terbangun dan mendapati suasana lengang dalam jiwa. Aku mengambil Koran pagi tapi di dalamnya tidak ada hal penting, hanya hal-hal yang menurut para jurnalis perlu kita ketahui, butuh keterlibatan kita dan harus dikomentari dalam bincang ringan di sela aktivitas. Agar terlihat aktual dan intelek barangkali.

Menjelang siang aku berpikir untuk menelepon siapa saja, mengajaknya melakukan sesuatu, paling tidak untuk mengisi kekosongan ini. Tapi akan menggelikan karena mereka sedang disibukan oleh urusan kampus- mungkin tugas-tugas atau aktivitas kemahasiswaan lainnya.
Serangkaian pemikiran melintas di otakku: teman-teman yang mneguatirkan hal-hal yang masih belum terjadi; kenalan yang berhasil mengisi setiap menit denyut kehidupan mereka dengan tugas-tugas yang terlihat tidak masuk akal bagiku; percakapan tanpa perasaan; pembicaraan panjang lewat telepon padahal tak ada hal penting untuk dibicarakan.
Aku bergumul lama dan keras dengan diri sendiri hanya agar tidak beranjak dari kursi. Tapi, kegelisahan berangsur-angsur menyerah pada kontemplasi, dan aku mulai mendengarkan jiwaku- atau intuisi atau emosi primer, atau apapun yang kita putuskan untuk percaya. Apa pun sebutannya, satu bagian dari diriku itu telah lama ingin berbicara, tapi selama ini aku selalu terlalu sibuk.

Kita semua terlahir dan dibesarkan dengan ideologi “Waktu adalah uang”. Kita tahu dengan pasti apa yang dimaksud dengan ‘uang’, tapi apa sesungguhnya arti kata ‘waktu’? satu hari terdiri dari dua puluh empat jam dan sejumlah momentum yang terbatas. Kita perlu mencermati dan mewaspadai tiap-tiap momentum agar menghasilkan yang terbaik darinya, meskipun kita sedang sibuk mengerjakan sesuatu, sibuk menggenapi putaran jam dan hari yang berganti, yang nyatanya begitu-begitu saja. Jika kita memperlambat tempo, segala sesuatu berlangsung lebih lama. Tentu saja itu berarti mencuci piring mungkin berlangsung lebih lama, tapi kita akan mendapati momentum atas waktu kita. Mendapati setiap deras air yang kita pergunakan merupakan buah keringat orang-orang yang tidak tertuliskan dalam sejarah, orang-orang yang bergelut dibawah terik dan bermandikan keringat untuk tetap menjamin persediaan air di tiap-tiap rumah kita. Lalu air itu membantu membersihkan sisa-sisa makanan kita, yang kemudian memberikan ‘jaminan’ kesehatan saat kita membutuhkan kembali piring itu. Hal tersebut membuat kita mampu produktif mengerjakan berbagai aktivitas. Semua melingkar, saling berberi. Disadari ataupun tidak, kemanusiaan memang hal utama.

Jika Rumi mencapai puncak ekstase nya dengan tarian pada Tuhan- yang selanjutnya ia anggap sebagai kekasihnya. Dalam hal ini, yang terjadi bukanlah sebuah tarian, tapi ketiadaan suara dan gerak yang total, kesenyapan, yang membawa aku pada kontak dengan diri sendiri. Dan percaya atau tidak, seringkali masalahku selesai bersama surutnya kopi, mengendapkan sari-sari pahitnya. Aku tidak melihat Tuhan disana, tapi aku memiliki pemahaman lebih jelas mengenai keputusan-keputusan yang harus diambil.
Bukankah ini juga jalan ‘tuhan’?


Yang Terkasih, Peter Sherney.
-Athena

----------------------
-Za, Lembang 25 April 2011

2 comments

Leave a Reply

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...