Diberdayakan oleh Blogger.
.

Antara Yin-Yang dan Ketidaktepatan Rumit yang Sempurna


posted by Azhar Rijal Fadlillah on

No comments

Antara Yin-Yang dan Ketidaktepatan Rumit yang Sempurna
Oleh: Azhar Rijal Fadlillah*





Entah apa yang seringkali singgah dalam hidupku, seperti sebuah kemalangan besar, atau mungkin lebih tepatnya sebuah kesialan biner. Hingga aku mulai berpikir bahwa mungkin dunia ini tidak terbentuk dari keselarasan yin-yang, tetapi lebih mungkin terbentuk dari ‘ketidaktepatan rumit yang sempurna’ –yang kemudian aku sebut sebagai kesialan- yang terbagi rata sebagai kepingan mozaik acak pemberian Tuhan. Ah, memang Tuhan senang bermain puzzle, tetris, atau yang lebih kekinian ‘rubik’.

Ini merupakan kesialan jika dipandang dari satu sudut pandang, tapi bukankah ketika kita memampatkan pandang pada titik berbeda, kita akan mendapati gambaran dunia yang berbeda pula? Begitu orang bijak berkata. Tapi untuk kali ini, aku enggan, atau juga mungkin lebih tepatnya tidak mampu berpikir sebijak itu. Aku ingin sesekali memainkan peranan sebagai manusia sederhana, apa yang terlihat, itu yang disadari sebagai yang nyata. Tidak ingin bersusah untuk memikirkan ulang atau merenungi lebih dalam lagi dari sudut pandang lainnya. Pendek kata, aku ingin keberpihakan kali ini. Tidak ada penundaan.
Begini kisahnya:

Matahari mulai meninggi diantara dedaun yang masih gigil oleh embun semalam, jalanan beranjak padat oleh orang-orang yang bergegas, disertai kikuk kendaraan bermotor yang sesekali mengepulkan asap dari saluran pembuangannya. Siang berselang, ditandai dengan terik yang membakar debu-debu atap rumah, menguliti kerak kelabu pada jalanan yang nampak berair dari kejauhan; fatamorgana.

Aku seperti biasa, baru beranjak dari mimpi ketika yang lain sibuk mempersiapkan makan siang. Ketika kios Koran dekat tempat kostku mulai melipat sisa Koran yang tidak terjual. Segera kujerang air untuk secangkir kopi. Pahit, seperti hidup.  Sementara itu, aku merapikan mozaik mimpi yang berserak tak beraturan di dinding-dinding percakapan sisa semalam. Air mendidih, kopi pun menguarkan aromanya. Kusulut sebatang rokok pada bibir yang masih kering, seperti siang yang tak bersahabat ini. Tak lupa menyiapkan playlist lagu di komputer lipat milikku, memilih satu dua lagu dengan bit yang cukup tinggi dengan maksud merangsang semangat yang sulit hinggap di kamarku. Kopi tandas, rokok kusulut kembali, jendela kubuka, hey… selamat pagi Indonesia! Aku telat kuliah lagi hari ini.

Tak ingin semangat yang sesekali ini pergi, segera aku mengambil handuk dan bersiap mandi, sambil bernyanyi tentunya.
Aku siap menantang hari…

Bandul jam di tangan kiriku menunjukkan angka satu. Hari ini aku berniat keluar hanya untuk membeli sarapan pagi (makan siang bagi yang lainnya).
Setelah mengunci pintu kamar, ada sebuah ritual yang selalu dilakukan setiap kali aku keluar: aku mengunci kamar kostku, berjalan dengan langkah kecil-kecil menyusuri koridor pemisah antar kamar, mengunci gerbang kompleks kamar, menuruni beberapa anak tangga, menutup gerbang kedua yang membatasi antara kompleks kamar dengan jalanan, lalu membuka kunci gerbang utama tempat kost yang letaknya disamping kompleks kamar kostku, memasuki pelataran parkir, membuka kunci gerbang tempat parkir yang letaknya disisi kompleks kamar bangunan kedua, membuka kunci gembok motor, mengeluarkannya, mengunci kembali gerbang parkir, menuntun motor keluar gerbang utama, mengunci kembali gerbang utama. Setelah semua itu barulah aku bisa menyalakan motor dan bersiap pergi.

Itulah ritual setiap kali aku akan keluar dari tempat kostku yang hampir dilakukan setiap hari, bahkan dalam sehari mungkin saja hingga tiga atau empat kali aku melakukan hal yang sama. Pada awal-awal kepindahanku ke tempat kost ini, aku seringkali mengeluh perihal banyaknya gerbang dan kunci, namun lama kelamaan aku mulai terbiasa dan berhenti mengeluh. Lagi pula kupikir hal itu bukan suatu masalah besar. Hanya kesialan yang sejujurnya sudah cukup imun dengan hidupku yang memang sial ini.

Sesampainya di jalan raya, aku yang tadinya bermaksud membeli sarapan pagi, entah mengapa hanya mengitari Jatinangor dengan sepeda motor, lalu kembali ke kosan tanpa membawa makanan apapun. Linglung kupikir aku siang ini, mungkin karena udara yang terlalu panas sehingga menggerakkan tubuhku untuk mengendarai kendaraan sekencang-kencangnya hingga kembali lagi ke tempat kostku. Lalu ritual ‘gembok’ sial itu kembali kujalani dengan tabah dan khidmat, meski dengan sedikit cerca di batin.


Siang yang tidak bersahabat ini cukup mengganggu kenyamanan bermalas-malasan. Untung saja komputer lipat milikku yang baru saja selesai diperbaiki bisa menemani suntuk siang ini. Selain itu, mood menulisku sedang kembali berpihak pada kemalasan ini, jadi setidaknya ada yang bisa aku kerjakan untuk membunuh bandul waktu yang begitu lambat menuju senja. Senja yang dinanti, apalagi diantar dengan gemericik hujan dan aroma tanah sehabis hujan. Ah aku rindu pada momen puitik itu. Momen yang mengantarkanku pada semangat, karena senja menandai malam dengan gelapnya segera mengetuk beranda, malam yang selalu hadir sebagai pertemuan sunyi dan lengang. Tempat para pesakit mengadu jerit. Tempat yang lapang bagi para pemalas menunaikan tugasnya sebagai manusia; untuk hidup, aku hidup.

Ah itu terlalu biasa, memang biasanya begitu ketika kesialan tidak singgah. Namun hari ini cukup berbeda kisahnya. Tidak ada senja yang diantar gemericik hujan dengan momen puitiknya, juga tidak ada malam yang lapang. Yang ada hanyalah kesialan. Sial, sesial-sialnya manusia.

Siang ini aku masih bergolek-golek malas di kamar, mendengar lagu sendu yang itu-itu saja, membaca koran yang itu-itu juga isi beritanya: kalau tidak bencana, paling-paling represi dan kekecewaan-kekecewaan atas pekerjaan pemerintah yang tidak pernah becus. Kolom politik, dalam negeri, luar negeri, ekonomi, pendidikan dan lain-lainnya sungguh tidak menarik minatku. Mataku hanya tertuju pada artikel-artikel di pojokan, yang ringan namun penuh jiwa didalamnya. Lalu aku putuskan untuk membaca buku, tetap sulit kucerap. Malas rasanya. Mataku melayangkan pandang pada sekeliling kamar, pada setiap jengkal pojokan, mencari apa yang bisa aku lakukan siang ini.

Seperti Durkheim pernah berkata, memang benar bahwa manusia selalu memiliki hasrat untuk berkerja, berkarya, atau melalukan sesuatu yang semata-mata bukan karena uang. Tidak masalah besar kecilnya. Aku merasakannya kali ini, untung saja aku menemukan tumpukan baju kotor yang harus aku cuci. Biasanya aku berpikir cukup praktis, cukup keluarkan uang lima ribu, bawa cucian ke laundry kiloan, keesokan harinya baju-baju sudah rapih dan harum. Tapi tidak untuk hari ini, aku ingin mencucinya sendiri.

Sebelumnya aku harus menceritakan kesialanku (lagi). Saat akan menjemur pakaian basah, aku terlebih dulu mengambil pakaian kering yang dua hari lalu aku jemur. Sialnya, beberapa (atau boleh dibilang hampir semuanya) jatuh ke lantai yang sudah basah oleh perasaan jemuran baruku. Terpaksa aku harus menjemurnya kembali bersama pakaian yang baru aku selesaikan siang ini. Tidak selesai disitu, sesampainya dikamar, aku mendapati kamarku banjir oleh air karena aku lupa menutup keran kamar mandi.

Setelah semua urusan mencuci selesai, aku berniat menonton beberapa dvd film di komputer lipat milikku, sialnya aku lupa bahwa optik dvd writernya rusak. Alhasil aku kembali ngedumel sambil tergolek lemas di kasur.
Cukup geram dengan beberapa kesialanku hari ini, aku memutuskan untuk mencari sedikit angin ke depan, sambil bayar uang jasa pengecatan kamar pada Pak Godeg. Begitu sebutannya untuk bapak kostku yang sangat baik ini. Setibanya di depan, aku menemukan sedikit senyum, Pak Godeg sedang santai-santai di beranda sambil menikmati kretek di sela-sela bibirnya. Biasanya di saat-saat seperti ini, ia cukup asik dijadikan teman berbincang. Selain obrolannya cukup menarik, karakternya yang kebapa’an namun humoris menjadi nilai tambah baginya. Dia juga termasuk bapak kost yang sangat peduli dengan anak-anak kostnya, terutama perihal keselamatan anak-anak kostan dan barang-barang yang ada di kostan.

Suatu malam, aku pulang cukup larut, pukul dua malam. Sialnya saat itu mati lampu, – kabar yang kemudian aku dengar dari Pak Godeg- gardu listriknya meledak. Saat itu, aku –yang biasanya memasukan motor ke pelataran parkir di bangunan kompleks kamar sebelah- cukup dibuat bingung oleh keadaan. Pasalnya, jika motor dibiarkan parkir di halaman akan sangat berbahanya. Aku tahu betul bagaimana keamanan di daerah kostan seperti Jatinangor ini, sedikit saja lengah, motor raib digondol maling. Tapi gerbang yang biasanya membatasi halaman dengan kompleks kamar sebelah (tempat parkir motor juga) digembok dan aku tidak punya kuncinya. Kuputuskan untuk menelepon Pak Godeg meskipun sudah jam dua malam, aku pikir cukup beresiko memarkirkan motor di halaman, terlebih lagi sedang mati lampu begini. Awalnya aku sedikit ragu akan membangunkannya tengah malam seperti ini, tapi niatku bundar: aku harus menelepon dan meminta tolong Pak Godeg. Diluar dugaan, dia masih terjaga selarut ini. “Tadi sore, gardu listriknya meledak jal, jadi mati lampu sampai malam gini, terpaksa deh bapak ronda dadakan. Takut ada maling, soalnya lagi mati lampu gini biasanya jadi kesempatan emas buat mereka jal, ijal dimana sekarang? Ke depan ya. Bapak ada di depan kosan, bahaya motor parkir disitu.” begitulah suara dari seberang dengan nada khawatir.

Segera aku kembali ke depan halaman untuk menemui Pak Godeg, ia menjelaskan bahwa kuncinya disimpan di ‘tempat rahasia’.
“Jadi ijal nanti kalau pulang malam lagi, cari aja kuncinya disitu. Soalnya anak-anak ga mau duplikat lagi kunci yang ini, udah terlalu banyak kunci katanya.” Wah, ternyata yang lain juga merasakan hal yang sama: pusing terlalu banyak kunci.

Bersama suara parau dan keretek yang terselip di bibir hitamnya, Pak Godeg hilang dalam gelap, kepulan asap keretek mengantarnya hilang dalam hitam malam. Dari kejauhan terdengan sayup-sayup suara pentolan tiang listrik yang menandai ia masih meronda disertai longlongan anjing yang gemanya terdengar jelas. Cukup jelas dalam ingatan.
“Kesini jal, santai-santai lah disini. Panas banget siang ini” suara riang dari jauh sudah terdengar. Mengembalikan kesadaranku yang sempat bertamasya dalam ingatan.

Sambil menanti pesanan makanan dari Hipotesa –tempat makan yang menyediakan jasa delivery sevice- aku berbincang banyak hal dengan Pak Godeg dan kawan-kawan kostan lainnya. Perbincangan siang itu cukup menarik dan sejenak berhasil mengusir suntukku hingga akhirnya pesanan ayam cincang dan jus alpukatku tiba. Segera aku pamit untuk masuk, memakan makananku dan kembali menuntaskan hari di kamar. Sendiri.

Setelah makan, kuputuskan untuk menghubungi beberapa kawan, mengajaknya menghabiskan akhir pekan bersama. Sebelumnya, sempat terpikir olehku untuk pulang ke rumah, namun segera ku urungkan niatku. Ada banyak pekerjaan dan kemalasan yang harus aku lunasi di ruang persegi ini. Ruang kamar kostku. Lama kunanti balasan pesan singkat, tak ada satu pun yang membalas. Hingga pukul lima, salah satunya membalas ajakanku pergi ke pantai; “maaf jal, besok sepupuku nikah. Aku udah di rumah. Lain waktu deh ya kita atur jadwalnya” tidak berselang lama dering telepon genggamku berbunyi lagi “wah, maaf banget jal besok aku ada acara di kampus, pelantikan. Lain kali ya” Ah, aku menggerutu. Disaat aku ingin menghabiskan akhir pekan bersama mereka, mereka sibuk dengan kesibukannya masing-masing. Tapi tidak apa-apa lah, toh aku juga memang sering berada di posisi mereka: menolak ajakan mereka dengan berbagai alasan kesibukan.

Belum jera, aku menghubungi beberapa teman lainnya, jawaban mereka semua hampir sama. Kembali aku menggerutu. Memang sial, saat mereka ada waktu dan mengajakku main atau sekadar kumpul-kumpul, aku seringkali sibuk. Kini, mereka semua yang sedang sibuk.

Kekasihku? Apa kabarmu?
Ia juga sedang sibuk dengan dunianya. Dari kabar yang aku terima, siang ini ia sedang mencari sepatu untuk acara pernikahan pamannya, lalu ia makan siang bersama teman lamanya di bilangan jalan Merdeka. Setelah itu, mereka menuntaskan temu-kangennya di rumah teman kekasihku itu, hingga bermalam disana sepertinya.
Dari nada suara dan cara ia mengirim pesan pendek, mengisyaratkan ia sedang dalam kondisi yang ‘baik-baik’ saja, bahkan cenderung sangat riang. Ya, memang dia begitu periang di depan teman-temannya.
Kerap aku menemui namaku lingsut dalam benaknya, larung dalam riwayat ini. Entah. Entah kemana hilir itu membawanya, aku habis disana. Berpuing dalam pusing genangan yang mereka namakan cinta.


Bangku-bangku penantian di peron mulai lengang, lamat-lamat senyap itu hinggap. Hanya sesekali derit roda besi beradu dengan jalur rel kereta. Aku cenderung senang menafsir sedih sambil duduk-duduk di bangku peron, menanti kereta menjemput kenangan yang dituai hari lalu. Kemudian memilih kursi dekat jendela, meratapi jalan yang berlalu seiring dengan laju kereta, ada kenang disana. Kenangan yang datang sambil lalu, hingga tiba sebagai orang asing dikota lain, mungkin aku singgah di kotamu, kotanya, kota mereka. Aku tidak tahu, yang aku tahu hanya satu. Bahwa dengan kepergianku yang tanpa tujuan ini, aku menemukan tujuanku. Tujuan yang tak berkeputusan.

Lalu aku terduduk kembali, tepat dibawah temaram lampu kota yang mulai redup. Senja mampir dikota ini, dengan rintik hujan sebagai koma-koma. Menanti malam mengetuk cakrawala, menggantikannya dengan gelap. Malam lah waktu yang tepat, waktu yang bersahabat bagi pesakitan sepertiku. Disini, dikota ini, aku asing. Tak ada yang aku kenali satupun, juga tak ada yang mengenali identitasku satupun. Ini lah kemerdekaan yang sebenarnya, lepas dari subjek-objek yang selalu terjadi ketika berhubungan dengan kenalan. Disini aku bebas menafsir sedih dengan cara apapun yang aku mau, toh tidak akan ada yang peduli, mereka semua tidak mengenalku juga latarbelakangku.
Berbeda dari biasanya, di kota ini aku memutuskan untuk berdiam lebih lama dari biasanya. Jika di kota-kota lainnya, aku paling lama hanya lima hingga tujuh hari, disini aku berencana menetap hingga satu bulan. Disini juga aku menemukan nuansa kota yang berbeda, selain lansekap dataran tinggi lengkap dengan sejuknya udara, kota ini tidak begitu sibuk, wajah kota yang cenderung malas. Lengang. Tidak begitu terlihat orang-orang bergegas, lebih banyak aku melihat penduduk kota ini duduk-duduk di beranda, meminum teh hangat sambil membaca koran di pagi hari. Menjelang siang, pepohonan yang rindang cukup memberi jeda dari terik tak terhingga sang matahari. Senja merapat, dimana bandul waktu biasanya berpihak padaku, mereka jalan-jalan santai di taman. Ada yang menuntun anjingnya, sekadar duduk-duduk di taman, atau sepasang kekasih yang sedang jalan-jalan sore sambil tersenyum-senyum kecil. Ketika malam tiba, warung-warung kopi dengan remang lampunya mulai menghadapi jam sibuk, mereka –penduduk kota ini- menghabiskan malam untuk berkumpul dengan kawan-kawannya. Sekadar bercengkrama, mungkin melepas penat seharian sambil membiarkan angin malam menyeka lelah di wajah mereka, mereka tertawa, mereka tersenyum, mereka bahagia.

“Jal, motor masukin dulu udah sore. Bapak udah selesai ngecatnya.” Begitu suara dari seberang yang lagi-lagi membangunkanku dari lamunan bertamasya dalam ingatan, ingatan tentang kondisi utopis saat aku dirundung kesialan dan dikepung nuasna nelangsa macam ini.


Senja merapat, lindap pada genting-genting kusam yang dikeraki perak debu jalanan. Temaram lampu mulai merambat di beranda, tertambat pada tiang lampion jalanan yang cukup usang dimakan usia, juga rayap sepertinya. Malam bersiap menggelarkan pagelaran orkes sakit hati. Sepintas terdengar sayup-sayup percakapan teman-teman kamar sebelah yang tertawa riang entah membicarakan atau menertawakan apa, yang jelas mereka sedang bahagia.

Telepon genggamku berdering kembali, segera kulihat. Rupanya dari kekasihku, setelah mengabariku bahwa malam ini ia tidak akan pulang, ia akan bermalam di rumah temannya, ia menutup telepon dengan samar-samar kudengar riangnya menyambut kopi yang dibuatkan temannya itu.

Mendengarmu, antusias dengan kopi yang baru tiba. Riang menyambut temanmu, mungkin dengan percakapan rindu, lama tak bertemu. Keesokan harinya, kamu akan diatar kerja mungkin dengan rona bahagiamu yang tidak biasa, yang jarang kutemukan kembali akhir-akhir ini saat bersamaku. Pertemuan menjadi begitu berharga ketika dinding waktu sempat cukup lama menunda singgah. Apa aku juga harus menunda pertemuan-pertemuan kita? Agar semangatmu menyambut percakapan dengan secangkir kopi, bahagiamu, senyummu, dan seluruh tawa juga haru dapat hadir kembali dalam pertemuan kita, seperti awal kebersamaan kita. Desir-desir aneh menggerayangi tubuh tanpa merupa sebagai kata.

Tentu kamu ingat percakapan dan kebersamaan di awal-awal hubungan kita. Siliwangi, Black n White dan Roemah Kopi pernah jadi saksinya. Disaat gejolak dan gelora mampu memberiku semangat untuk selalu berbuat lebih. Lebih mencinta, lebih berusaha membuatmu bahagia…
Hari ini, aku dan ruang persegi kecil ini lingsut. Terlipat tanpa harga. Kini –lelaki yang sumsum tulangnya habis untuk mencinta- getir meratapi ketidakbermaknaan gelap. Sendiri. Dengan kopi yang tak pernah tunai mengimbangi pahit hidup.
Disini, aku mencinta. Cukup untuk cinta itu sendiri.


Samar-samar terdengar bunyi pentolan mie tek-tek dari kamarku yang jaraknya cukup jauh dari jalan. Segera aku putuskan untuk menghampirinya, dengan sedikit berlari karena takut tak terkejar. Aku lapar. Sialnya, mie tek-tek pesananku hanya seporsi anak kecil atau porsi perempuan yang sedang diet; sangat sedikit. Belum lagi pedas dan asinnya yang berlebihan. Aku menduga, karena memasaknya di tempat yang gelap, ia tidak bisa memperkirakan bumbu yang tepat. Tapi itu agak mustahil juga, tentu aku bukan pelanggan pertamanya selama ia menapaki karir sebagai tukang mie tek-tek, ia seharusnya sudah cukup terampil menghadapi berbagai kondisi. Keputusanku final: lagi-lagi ini kesialan.

Tak ingin kesialan ini berlanjut, aku menjerang air untuk secangkir kopi susu. Kali ini aku ingin kopi susu, bosan dengan yang pahit. Aku ingin hidupku sedikit manis, semoga saja semua itu berawal dari pemilihan kopi.
Ini alasan aku katakan dunia ini terbentuk dari serangkaian ‘ketidaktepatan rumit yang sempurna’. Saat air mendidih pada dispenser yang ditandai dengan menyalanya lampu merah di tanda ‘hot’, segera kutuang air pada kopi susu, sialnya aku menuang air dari keran berwarna biru yang itu berarti menuang air dingin. Kopi pun sia-sia, seolah Tuhan mengingatkanku bahwa manusia sepertiku memang sepantasnya hanya meminum kopi pahit tanpa susu ataupun krimer. Manusia sepertiku memang dirancang untuk menjalani pahitnya hidup, dalam gerbang ‘kebahagiaan’ atau ‘kemanisan’ hidup sepertinya telah terpampang jelas wajahku dengan tanda silang: dilarang masuk ke area ini! Sepertinya dalam konsep yin-yang, aku diciptakan untuk kepahitan agar dunia ini tetap berjalan dengan keselarasan dan keseimbangannya.
Ya. Aku dengan kopi pahit memang sudah seperti refleksi nyata hidupku. Pahit.

Malam semakin mesra memayungi kesialanku yang dirundung kemalangan tak berkeputusan. Sesekali longlong anjing melengkapi lipatan malam pada wajah bisu, wajah lelah menuju lelap. Wajah nelangsa dari lelaki sial.
Sebuah pesan pendek mengisyaratkan kekasihku masih terjaga, sedang dalam kondisi ‘baik-baik’ saja bersama temannya, menghabiskan malam seperti gelak tawa kawan sebelah kamarku. Bahagia.
Lampu dipadamkan, kepulan asap rokok menyebar mendesak seluruh pojokan kamar, lalu hilang bersama ingatan akan kesialanku hari ini. Semoga esok aku bangun pagi dan mencoba lagi membuat kopi susu. Mencoba lagi peruntungan tentang ‘manis’nya hidup. Aku tak akan jera!
Semoga…


Hegarmanah, 9 Juli 2011
ZA




-----------------------------
* Tulisan ini dibuat sebaga racauan sekaligus percobaan membuat cerita pendek




Leave a Reply

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...