Diberdayakan oleh Blogger.
.

Aku Hari ini


posted by Azhar Rijal Fadlillah on

No comments

Untuk kawan seperjuangan, yang dengan sunyi aku mencintai kalian…


Hubungan yang dialogis datang dari sifat satria dan wigati. Yaitu sifat-sifat yang tidak memegahkan diri.-Ayu Utami; Bilangan Fu  


Hari-hari ini bagiku merupakan antiklimaks dari gejolak semangat, seperti kejenuhan peradaban modern yang menghasilkan kemandegan tingkah dan laku. Malam-malam gelap kini tidak lagi aku terangi dengan lembar-lembar usang teks filsafat, sore yang indah tak lagi dijejali dengan bunga-bunga dialog filosofis, lalu pagi yang gigil tak lagi kuhangatkan dengan imaji dunia utopis. Tidak, tidak lagi kawan. Inilah masa yang aku sebut sebagai waktu hening, diam dari gerak dan suara total. Disaat seperti inilah aku menuntaskan temu-kangenku dengan sang semesta, kembali pada rahim jagat raya.

Telah banyak kudapati sebagian dari bangsa manusia ini terperosok dalam jurang kenaifan, jurang tak berdasar. Mereka yang dengan gigih memperjuangkan apa yang sesungguhnya tidak lebih dari sekadar menuntaskan rasa lega lepas dari dahaga, kepuasan mendapati diri telah mampu berdiri di puncak tertinggi. Puncak agung para pemuja kemapanan intelektual. Mereka berdiri menantang angin yang semakin menusuk dari bukit-bukit tetangga, membusungkan dada sebagai pertanda akulah sang mahadewa. Sempat aku merasakan kedigjayaan itu, tentu saja dalam kadar tertentu, ruang lingkup tertentu. Setidaknya bagiku, di usiaku, di lingkungan sempitku, aku sempat mencicipi singgahsana itu, berdiri dengan bangga disana, kawan. Kalian pun mendongahkan kepala, melihat kepuncak dimana aku berdiri, memandang takjim. Aku tersenyum ramah sedikit merendah, “masih ada puncak lainnya yang dihuni para dewa tetangga”. Tentu saja itu hanya sebuah ungkapan diri untuk merendah. Sejujurnya, dalam hati aku merasakan kepuasan itu.

Andai saja kalian tahu kawan, betapa indahnya menikmati mata-mata terperanga bangsa manusia yang mendongakkan kepala, melihat keatas. Ya, ke puncak ini. Sungguh, kalian tidak akan memerlukan lagi masturbasi! Tapi roda terus berputar, waktu terus merayap pada dinding zaman.
*

Kusadari bahwa untuk mencapai puncak tertinggi itu diperlukan perjuangan dan pengorbanan lebih. “Guru kencing berdiri, murid kencing berlari” kini aku sepakat dengan petuah itu. Sejengkal saja sang alam mengajariku, aku mengambil nafas panjang, mengatur ancang-ancang untuk melakukan serangan cepat dan frontal ke titik jantung kemenangan. Barangkali benar apa yang sering diingatkan temanku bahwa aku harus belajar berjalan dulu sebelum hendak berlari. Namun disisi lain, aku juga merasa ketinggalan telak oleh waktu yang sudah aku sia-siakan, di tikungan-tikungan inilah aku harus membayar ketertinggalan, melunasi waktu yang terbuang di masa silam. Maka segera kuabaikan wejangan kawanku, aku berlari sekencang-kencangnya, mendaki setinggi-tingginya. Pohon, ranting, juga semak belukar aku tebas habis demi melenggangkan langkah yang terhalangi. Bukan tanpa kegagalan juga, beberapa kali aku terperosok, di jumlah yang sama aku bangkit. Hingga sampailah aku di peristirahatan pertama: di puncak ini. Aku tidak tahu ada berapa banyak lagi fase yang harus kulalui untuk menjadi sang mahadewa semesta, setidaknya di peristirahatan pertama ini aku terdiam, mengingat kembali jalan-jalan berdarah yang telah aku lalui.

Mungkin, untuk sementara, aku harus kembali turun, menapaki aliran sungai hingga bertemu muaranya. Disana, di aliran itu, pastilah menyimpan banyak cerita tentang kemana arus ini membawaku. Dari hulu ini aku harus bermula. Merangkai cerita menjadi kesatuan kisah hidup seorang manusia.

Dengan begitu, tidak akan lagi terlewatkan olehku bagaimana kisah ternak tetangga yang mati, anak pak RT yang hamil diluar nikah, atau harga cabai yang mencekik nasib petani. Tidak akan aku tergesa-gesa menyimpulkan moral cerita, demi kesan filosofis. Karena sebagian cerita sudah cukup untuk cerita itu sendiri. Tidak kurang, tidak lebih.

Tidak peduli aku akan kembali terjatuh, tersungkur. Sebagian dari kalian tentu ingat jargonku. Seberapa banyak aku terjatuh, di jumlah yang sama aku bangkit.

Salah satu temanku mengingatkan, bukankah tujuan dari filsafat itu adalah kebijaksanaan? Aku lebih suka menyebutnya kebersahajaan. Jika benar demikian, maka apakah sudah benar apa yang aku lakukan selama ini? Apakah muaranya ada di alur sungai yang sama? Disini, di puncak pertama ini aku mencuri waktu, mematahkan jarum jam untuk mengaduk kopi, lampu di padamkan, hening menyergap.

*

(KRITIK ATAS MODERNISME; Catatan Parang Jati yang tak pernah diterbitkan, kutemukan dalam folder “draft artikel” di dalam komputernya. Barkode waktu 1995, ketika ia berusia 20 tahun), begini tulisnya:

Mengapa ‘takhayul’ masih subur di negeri ini? Jika bukan karena tanah ini mengandung roh-roh?
Jika bukan karena roh-roh masih bersemayam di tanah ini, tentu lah karena hal lain. Yaitu karena kita masih merasa ada yang salah dengan ‘takhayul’. Tapi mengapa kita menganggap salah ‘takhayul’? Karena kita telah berkenalan dengan cara pikir modern. Kesadaran modern membebaskan manusia dari takhayul, dari batas dan ketakutan yang disebabkan oleh hal-hal yang tidak bisa diterangkan dan dibuktikan akal sehat.

Celakalah bapak-bapakmu, sebab tidakkah Marx—yang mereka setankan itu—benar belaka?
(Inilah bapak-bapakmu: mereka yang sejak ’65 menghabisi orang-orang komunis, mereka yang memakai cara-cara militer, mereka yang memaksa orang untuk beragama dan lebih parah lagi hanya menyediakan lima agama, mereka melarang marxisme.)

Sebab perkataan setan itu lebih benar daripada dirinya sendiri. Setan itu mengira bahwa jika nilai-nilai tradisional, manusia pun terbebaskan dari takhayul.
Yang terjadi: institusi modern menggantikan institusi tradisional dalam hal menghisap kelas yang tidak mendapat keuntungan dari kesadaran modern.

Contoh:
1)    Pemilik modal, dalam hal ini korporasi penambangan batu, ikut membiayai ritual sajenan demi mendapat ‘izin spiritual’ untuk eksploitasi.
2)    Penguasa memainkan dongeng ‘hatu cekik’ untuk membikin ketakutan dan kebingungan dalam massa-rakyat, agar massa-rakyat mudah dipecah belah dan dikuasai. Dengan demikian, kekuasaan mereka dilanggengkan.
Kesimpulan: Kesadaran modern bukan pembebasan. Kesadaran modern adalah alat.

Celakanya, ia lebih alat kepentingan individu atau segolongan orang. Ini bisa membuatnya lebih buruk dari takhayul. Sebab, takhayul adalah alat untuk menjamin kepentingan hidup bersama. Kepercayaan tentang hutan terlarang yang dihuni roh-roh penjaga hutan adalah alat untuk menjaga alam yang merupakan milik bersama.

Modernisme memiliki jalan lurus dan terang tapi tidak tujuan yang lurus.
Takhayul memiliki tujuan yang lurus tapi tidak jalan yang lurus dan terang.

Modernisme adalah alat untuk memperalat.
Takhayul adalah alat untuk diperalat.

Tapi, sekali lagi, mengapa takhayul masih subur di negeri ini.
..jika bukan lantaran masih banyak rakyat yang tidak mendapat keuntungan dan pembebasan oleh kesadaran modern?

Pengetahuan tentang harga marmer seratus ribu di kota tidak membuat tukang batu di Sewugunung bisa menjual marmer kampung halaman dengan harga lebih daripada seribu.

Kesadaran akan pendidikan yang mencerdaskan bangsa tidak membuat mereka bisa pergi ke sekolah. Karena belum tentu ada sekolah, kalaupun ada, belum tentu ada uang dan kesempatan.

Jika demikian, apa lebihnya kesadaran modern dari takhayul?
Takhayul, dari akar kata yang sama dengan kata ‘khayal’. Artinya hal-hal yang bersifat khayal belaka. Tapi sekolah tinggi dan harga marmer di kota juga bersifat khayal belaka bagi si tukang batu. Fasilitas modern adalah takhayul juga. Takhayul baru.

Dengan demikian, kita jangan salah juga menganggap takhayul lama karena ia bersifat takhayul. Sebab demikian juga lah, segala yang tak terjangkau juga takhayul.

Jika buahnya baik, maka baiklah pula pohonnya, meski khayal belaka.

Sebab, tanah ini memang masih tempat bersemayam roh-roh. Di pohon-pohon keramat memang masih ada mambang yang menunggu. Di hutan-hutan belantara ada demit yang menghuni. Di tebing-tebing ada siluman yang menjaga. Pesan mereka satu: Jangan merusak rumah kami, yaitu bumi dimana engkau hidup sekarang.

-Parang Jati (Salah satu tokoh dalam novel Ayu Utami; Bilangan Fu)

*
bersambung…

Azhar Rijal Fadlillah
Jatinangor, 30 September 2011

Leave a Reply

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...