Diberdayakan oleh Blogger.
.

Hujan dan Sayuran


posted by Azhar Rijal Fadlillah on

No comments


Hujan dan Sayuran; Antara Dingin dan Hangatnya Kenangan.
30 Hari Menulis #1 

Sore hari yang idealnya bisa dinikmati dengan cuaca cerah lengkap dengan matahari yang bersiap pulang ke peraduannya, atau jika pun hujan hanya sekadar rintik mesra. Tidak, tidak begitu dengan sore ini. Sore ini hujan lebat disertai angin kencang juga banjir di beberapa ruas jalan menemani kita. Hal ini bertambah sulit ketika harus berkendara menggunakan sepeda motor.

Gambar diambil dari sini

Sekitar pukul 14.00 kita memutuskan untuk berangkat dari Jatinangor ke rumahmu, kita mampir di Griya Jatinangor untuk membeli beberapa sayuran, kamu masak hari ini. Kamu cantik kala ini. Setelah beberapa jenis sayuran hijau segar di dapat, kita melanjutkan perjalanan. Baru sampai di bilangan Cileunyi, hujan tiba-tiba deras tanpa aba-aba. Kita basah, kita dingin, kita menggigil. Lalu tanpa aba-aba juga, badai kenangan itu mampir. Kita ingat sekitar lima bulan yang lalu ketika pulang dari Ujung Genteng- Sukabumi sekitar pukul 00.00 kita basah kuyup dan tetap harus melanjutkan perjalanan dari Sukabumi ke Bandung. Bukan Sukabumi yang dibayangkan orang banyak, Ujung Genteng terletak di ujung barat daya kabupaten Sukabumi. Dari Bandung jauhnya sekitar 360km, kurang lebih seperti perjalanan pulang pergi Bandung-Jakarta. Kita bisa, kita kuat.

Seketika kita kembali dari ingatan hangat, lalu menggigil di bilangan Soekarno-Hatta. Aku melihat beberapa mobil melintas, ada yang menyusul, ada yang tersusul. Mereka sepertinya baik-baik saja di dalam sana, mungkin sambil mendengarkan radio atau menyetel musik yang melantun hangat. Beberapa pengendara motor memilih berteduh di warung-warung kopi untuk menunggu hujan mereda. Kami dijalan, aku membetot gas, kamu tetap gigil. Ada juga yang terlihat memanjakan ingatan dengan melamun, mungkin yang terlintas adalah segenap bayang gelap tentang yang lalu, tentang masa-masa sedih yang membuat mata mereka ‘didewasakan’ waktu. Sekaligus membuatnya semakin kuat, sedih adalah proses kreatif yang membentuk diri. Tidak ada kata yang lebih pantas untuk mereka yang berani menatap wajah kesedihan itu selain para pemenang. Tidak masalah bagi mereka yang kandas membina hubungan, yang gagal dalam pekerjaan, yang telak ditinju kerasnya perkawinan yang berujung pada perceraian, juga yang termarginalkan kerasnya sistem kapitalistik dan akhirnya berujung di jalanan menjual keringat bagi orang-orang yang duduk-duduk malas di ruang ber-AC. Tidak masalah, sungguh mereka sedang belajar untuk kembali bangun. Saat mereka kembali melihat semua itu dalam lamunannya, mereka sadar semakin kuat. Ah sampai juga kita di jalan Nanjung, dekat rumahmu. Aku membetot gas, kamu tetap gigil.


Kopi, rokok, dan Persib cukup hangat sore ini. Kamu memasak, kamu cantik. Bahwa kenangan memang hangat kita bersepakat untuk itu, tapi kesadaran itu tidak membuat kuyup menjadi hangat. Gigil tetap gigil, bahwa hujan memang dingin. Tapi kita pernah melalui yang jauh lebih sulit dari kondisi ini, maka kita kuat. Kenangan, disadari atau tidak mampu benar-benar mendewasakan spiritualitas mental. Seperti halnya kopi dan rokok sore ini mampu mengusir gigil itu, mengajarkan kita bahwa dibalik hujan deras dan kuyupnya tubuh, asalkan secara mental kita siap, secara spiritual kita siap, rasa-rasanya tidak butuh mobil mewah yang menawarkan ‘hangat’ alih-alih prestise dan status sosial. Kita kaya sedari jiwa.


Rumahmu, 12 Desember 2011
Menanti masakan…

Leave a Reply

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...