Diberdayakan oleh Blogger.
.

Seraut Kusut di Penghujung Tahun


posted by Azhar Rijal Fadlillah on ,

4 comments

Setelah semua menjadi suntuk, suntuk yang kian mengukuhkan diri di tahun yang tinggal menghitung hari, hari yang akan membawa pada penanggal baru, pada tahun yang masih hijau. Setelah semua masa kemalasan, kemarahan yang meledak-ledak, emosi yang tidak menentu, juga gairah yang jarang mampir untuk berpihak. Semua menyuruk pada satu resolusi baru, mengenal atau mungkin mengingat kembali, dimana kini aku berdiri?


Cuci dulu muka dan  juga dengan sedikit air yang akan membasahi rambut, agar segar, agar mekar. Kemudian melihat seonggok daging dan segumpal darah yang mengalirinya, aku melihatnya di depan cermin berbingkai plastik warna kuning, tepat di samping kanan pintu kamar mandi. Setelah semua menjadi suntuk, wajah berbayang itupun menampakkan raut lelahnya atau mungkin raut malas.
---------------------------


Kamu, tidak lah lain dari seorang anak muda tanggung yang sedang serba kekurangan, selalu kehausan. Seperti yang kamu sering bicarakan, bahwa di dalam dirimu ada semangat yang begitu besar yang tidak akan tersalurkan dalam kehidupan yang tenang. Kamu penuh onar dalam daging yang menggumpal itu, duri-duri yang seringkali mencuat di saat-saat tertentu, biasanya saat-saat genting dalam hidupmu. Kali ini pun barangkali kamu kembali terluka oleh onar itu. Aku datang seperti biasa, untuk mencabut duri-duri atau memasukannya kembali kedalam dirimu, jauh di dalam, agar kamu punya cukup waktu dan cukup siap untuk kembali merasa seperti ini. Setidaknya dengan begitu, kamu punya cukup pengalaman untuk menyembuhkan onar itu. Meskipun kamu selalu bilang itu tidak cukup.


Aku melihat kamu kini sudah begitu berubah, kamu semakin rumit dan kusut. Sesekali kamu memang butuh pelumas agar benang kusut itu tidak semakin membuatmu kalut. Mungkin kamu lupa, bahwa diatas segala kebesaran dan kesempurnaan hanya ada kesederhanaan, kamu lebih suka menyebutnya kebersahajaan. Aku yakin se yakin-yakinnya, kamu lupakan itu. Kamu terlalu besar sekarang bahkan utuk kujamah, aku semakin kecil bahkan untuk kau lihat. Tapi lubang dalam dirimu pun semakin membesar, nganga itu semakin menyalak dengan kobaran api bencimu yang sangat aku kenal itu. Panasnya sungguh aku akrabi, karena sedari dulu akulah yang memadamkannya, meski kadang aku juga yang memberi kayu bakar dan minyak tanahnya.


Mungkin kamu juga sudah lupa bahwa untuk bertahan hidup tidaklah perlu saling menyikut, untuk kaya dalam hidup barulah perlu saling berebut. Tapi bukankah kamu berjanji akan selalu mengingat bahwa urusan kenyamanan finansial itu hanya sebuah titik pembiasaan. Ketika kini aku merokok dengan rokok seharga enam ribu per bungkus dan kamu sebelas ribu perbungkus bukankah kita berdua sama-sama merasakan 'kebahagiaan' itu? Perbedaannya hanyalah soal kamu dibiasakan dengan standar rokok yang enak itu seharga sebelas ribu dengan label merek yang kamu setiai itu, sementara aku membiasakan dengan rokok yang enam ribu. Bukankah kita berdua sama-sama 'bahagia'? Kita pernah membicarakan ini sebelumnya, dimana media menjadi titik kritik kita saat itu. Mereka mencoba menjejali kita dengan segudang 'kesenangan' dan opini yang membentuk publik. Saat itu, kita menyepakai bahwa kekuatan media hari-hari ini tak ubahnya seperti kekuatan dogma agama. Kamu bahkan bilang, jika pada setiap hati kita dibelah dan dilihat isinya, mungkin yang ada disana bukanlah lagi berbagai isme, agama, spiritualitas, atau kepercayaan-kepercayaan yang arif, tapi medialah yang bercokol dan beranak pinak disana.


Apa jangan-jangan kamu sudah menjadi bagian dari korban mereka? Ah tentu tidak, atau belum. Buktinya televisi di kamar kost mu masih setia menjadi 'barang antik' yang berdebu meskipun cara hidupmu sedikit banyak sudah seperti iklan-iklan di layar kotak warna-warni itu. Entah dari mana kamu belajar. Kamu lebih kompromis saat ini, tidak sekeras dulu, meskipun tetap murung dan kusut. Tapi jelas tampak bahwa kamu kehilangan keberanianmu yang dulu sangat aku kagumi.


Kamu jangan terlalu pesimis, masih banyak kesempatan-kesempatan yang menunggumu. Tentu kamu tidak ingin keputusanmu menjadi penyesalan, seperti keputusanmu tiga tahun lalu yang membawamu kesini. Itu semua akibat sifat pengecutmu, akibat kelemahanmu yang penakut dan pecundang sialan itu. Masih banyak kerja-kerja kecil yang akan berdampak besar jika dilakoni dengan kesungguhan dan ketulusan, masih ada harapan-harapan kecil di setiap tikungan yang selalu terlewatkan olehmu akibat kekusutanmu.


Segera rapikan tas punggung kusammu, bawalah secukupnya, buang yang tidak perlu. Lalu tentukan, berangkat sekarang atau lanjutkan kesialanmu di ruang persegi yang semakin berlumut ini. Dan maaf, aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Aku harus pergi menjemput sisa-sisa harap itu, karena jangan-jangan hanya harapan itulah yang tersisa untukku, untuk kita, untuk spesies bernama manusia.
---------------------------


Belum kering air mukaku, kini sudah basah kembali oleh seraut kenangan tentang harap itu. Kusadari, aku terlalu lama menunda, terlalu lamban bersikap. Hingga air yang kujerang untuk kopi itu telah kembali dingin dan aku harus menjerangnya kembali sambil bergolek malas di atas kasur lapuk yang membawaku pada kesia-siaan ini. Pada penanda tahun yang tak pernah kenal kompromi dan negosiasi, waktu terus berjalan dengan atau tanpa aku menyadarinya.



Jatinangor, 3 Desember 2011
Selepas kepergian kawan lama.





Gambar Diambil dari Sini



4 comments

  1. marliawati

Leave a Reply

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...