Diberdayakan oleh Blogger.
.

Bendera Omong Kosong!


posted by Azhar Rijal Fadlillah on

No comments


Bendera Omong Kosong![1]
:Sepotong Prosa Liris


Bilur terkepung, seluruh mata memandang heran. Pak Sobri menatapnya dalam-dalam, Bu Mirna melotot sampai matanya terlihat akan keluar, seluruh teman-temannya mengerinyitkan dahi. Pagi yang sebetulnya begitu indah mendadak pecah. Angin menghembuskan aroma kekalahan jauh dari negeri yang entah, mega-mega sebagai atap segera roboh, berpuing di lapangan upacara. Tubuhnya lingsut diantara mata-mata yang tajam menatap peristiwa.

Ia menghujam topi merahnya ke tanah, meninggalkan lapangan upacara. Berlari-lari kecil menuju kamar mandi, menangis sekuatnya. “Kenapa benderanya terbalik?” teriaknya pada diri sendiri. Semenjak hari itu, Bilur menyimpan dendam pada sebuah ritual pagi di hari senin. Hingga kini, 20 tahun lamanya.

Upacara Memperingati HUT RI ke-65 di Papua, gambar diambil dari sini

***

Hari masih terlalu pagi untuk menyingsingkan selimut. Masih terlalu dini untuk bergegas. Matahari belum mau rekah, belum hendak menelusup diantara padat jalan-jalan kecil di kota ini. Embun di negeri entah pun belum siap untuk pergi, untuk luruh dari kembang-kembang halaman. Semenjak efektivitas dan efisiensi didengungkan di telinga serupa mantra-mantra penolak bala, Bilur mulai bebal dengan prosesi menikmati pagi, seremoni lambat menyambut kehidupan. Tidak, itu bukan milik anak kota. Rasa yang lamat hanya milik orang desa yang kini pun mulai kehilangan jiwa, televisi meracuni pikiran mereka. Dengan mimpi-mimpi yang tak terbeli, dengan tanah-tanah yang sudah bukan milik mereka.

Bilur segera bergegas dengan motor tuanya, berebut pagi yang hiruk-pikuk dengan para pelari hidup. Sebab kota tak punya cukup tempat bagi mereka yang lambat. Bilur ingat, semasa sekolah dasar di kampung, ia pergi ke sekolah berjalan kaki, sambil bernyanyi. Melewati pesawahan hijau, pohon-pohon yang masih basah oleh embun sisa semalam. Bertegur sapa dengan Bu Mirna tetangganya yang juga mengajar sebagai guru matematika di sekolahnya. Ia berjalan dengan beberapa kawannya. Tiga sampai empat biasanya, sambil berlari-lari kecil sehingga tas yang ia bawa memantul-mantul di pantatnya. Kemudian matahari lamat-lamat hinggap, menyinari wajah mereka yang kadang masih beringus. Tak ada klakson mobil dan motor, tak ada bos yang mendengungkan mantra-mantra produktif.

“Kamu dimana Bil? Kita ada upacara bendera hari ini. Kalau telat, si bos bisa nyerocos.” Semenjak peraturan menteri bulan lalu, setiap kantor kini harus melalukan upacara bendera pada senin pagi, layaknya bocah-bocah berseragam merah-putih.

“dijalaaan, kena macet nih. Sial!” sambungan diputus, di telinganya kini didengungkan lagi lagu pagi sebuah kota, klakson dan sumpah serapah para pelari yang gusar. Ritual pagi mereka yang selalu bergegas seolah menggambarkan peta perjalanan hidup yang tak pernah lengang. Kehendak yang tak pernah habis, sebab hidup mereka sudah kadung tanak oleh mahluk bernama rupiah. Sebab televisi terus menggempur mimpi-mimpi istri dan anak mereka.

Sudah setahun ia tinggal di kota, itu berarti sudah setahun juga tidak pernah lagi dikunjungi sepi. Sebab efektivitas dan efisiensi selalu didengungkan di telinga serupa mantra-mantra penolak bala. Sebab semua sudah mejadi pasar. Hingga kesunyian pun harus dibeli, betapa kawasan Puncak-Bogor kini semakin ringkih menahan kegelisahan orang-orang kota, para pelari hidup. Dimana lagi tempat yang bukan pasar? Teriak Bilur.

Ia memang bukan filsuf, hanya seorang anak desa tamatan SMK—yang kampung halamannya tak tercatatkan di peta, mungkin kehidupan disana terlalu sepele untuk dicatat. Apa itu filsafat juga ia tidak tahu benar. Tapi boleh juga kan ia mempertanyakan hidup? Sebab jangan lagi kita ulang kesalahan para filsuf yang memperjelas semua hal, tapi lupa bagaimana cara memotong semak di halaman belakang dan menyiram bunga di sepetak halaman depan.

“woooi, kalau bawa motor jangan ngelamun! Giliran mobil gue udah keserempet, mana bisa lu ganti rugi!”
“iya, maaf pak” wajahnya tertunduk, meminta belas kasihan.

Kota sudah benar-benar siap kembali memulai hari yang baru. Kebisingan yang baru, demonstrasi yang baru, dan segala kriminalitas yang sudah siap menguntit siapapun yang lengah. Embun tidak ada di kota ini, bahkan mungkin anak cucu kita nanti hanya akan mendengar embun dalam cerita-cerita romantik. Seperti Bilur yang hanya mampu mendengar ladang subur dan masyarakat yang sejahtera—dengan segala budaya luhurnya—dalam dongeng purba yang diceritakan neneknya. Yang tertinggal hanyalah patung, lukisan, sajak, cerita, dan lagu-lagu. Tapi, karya seni macam apa yang bisa ditinggalkan kota yang terlalu sibuk seperti ini? Sebab hidup hanyalah sebentuk ruang tunggu. Manusia datang dan pergi, kehidupan tak pernah beranjak sedikitpun. Ia menetap, selalu ada, tidak pernah dan tidak mungkin menjadi tiada. Sebab tidak mungkin dari ada menjadi tiada, dan juga sama tidak mungkinnya dari tidak ada menjadi ada. Berubah bentuk, mungkin. Lihat saja Jakarta hari ini. Lihat saja dirimu hari ini!

Bilur kembali tenggelam dalam lamunan. Kembali hanyut oleh deras arus kota yang membawa setiap manusianya pada keterasingan. Ia mulai menyadari apa yang telah ia lakukan pada hidup yang telah begitu banyak memberi, pada hidup yang tak pernah lelah mengasihi.

Suasana di pelataran parkir kantor sudah ramai oleh para peserta upacara. Mereka tidak lagi bocah yang memakai seragam merah-putih. Tak ada lagi ingus yang bergelantungan. Mereka semua wangi parfum yang dibeli di perempatan jalan, imitasi parfum-parfum ternama. Dengan gesit Bilur merapatkan diri pada barisan tubuh-tubuh wangi itu. Ia mulai lupa bagaimana bau tanah sehabis dicumbu hujan, atau embun yang luruh menetes pada tanah pagi. Ia kini hanya ingat Calvin Klein, Chanel, Armani, Issey Miyake, dan sederet parfum ternama yang ia pernah coba beberapa variannya di toko parfum murahan perempatan jalan. Demi menarik lawan jenis, semua cara dilakukan. Demi bertahan hidup, semua cara dilegalkan.

Pemimpin upacara mulai memasuki lapangan upacara, prosesi upacara bendera segera dimulai. Seketika itu, segerombol pasukan bernama kenangan menghantam Bilur tanpa aba-aba. Ia memiliki sentimen pribadi pada sebuah upacara bendera. Semenjak insiden upacara saat ia sekolah dasar—setiap menghadapi upacara atau sekadar melihat upacara bendera—hatinya tak pernah jenak. Tubuhnya mulai mengeluarkan keringat dingin. Berkuar aroma kekalahan dari masa yang jauh tertinggal di kampungnya. Ia menyimpan serupa trauma aneh dalam dirinya. Upacara bendera menjelma kutukan seumur hidup bagi Bilur, seperti Sisifus yang dikutuk mendorong batu ke puncak gunung sepanjang hidupnya.

Namun kehidupan tak pernah berhenti oleh kekalahan-kekalahan, tak pernah ambruk oleh hantaman. Selalu ada upaya dan usaha-usaha kecil yang mampu meringankan batu besar itu. Selalu ada musik yang mampu mengusir jenuh dalam medan perang. Selalu ada bidang landai untuk sejenak mengulur nafas, mengatur strategi. Kehidupan hanya berhenti ketika kita berkehendak untuk menghentikannya.

Kadang, hidup ini memang hanya selebar televisi, jika kita membukanya, lelahku lelahmu tak cukup untuk mengarunginya. 
Dan jika kita menutupnya tak butuh satu tarikan nafas tuk selesai...untuk sudah.[2]



Upacara pun selesai, semua karyawan dan petinggi perusahaan membalikan badan dan kembali pada meja kerjanya masing-masing. Sang bendera dwi warna sudah berada di puncaknya, dengan gagah menantang angin yang membawa nestapa entah dari sudut mana. Sebab kota sudah terlalu rumit untuk diurai, untuk dipetakan lewat punggung manapun.
Bilur kini sudah mengenakan seragam terusan berwarna biru, menenteng ember hitam berbau wippol, dan lap pel yang menggantung malas di pundak kirinya. Sayup-sayup Internationale terdengar di bassement yang sebagian pojoknya digunakan untuk ruang office boy (OB). Bagi sebagian kecil kelompok buruh—yang biasanya telah ‘diprovokasi’ atau ‘diedukasi’ oleh sekelompok LSM—lagu ini sudah tidak asing. Bahkan menggantikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dalam hatinya, menempati sebentuk lubang dalam diri mereka yang bernama luka. Sudah terlalu lama bangsa ini melumuri luka mereka yang bernanah dengan garam. Mereka harus tetap memupuk harap, sebab jangan-jangan hanya harapan lah yang mereka punya. Harap yang tak pernah tunai dikunjungi peristiwa. Harap yang selalu sepi di dalam hati.

Sudah setahun ia meninggalkan kampung, hingga kini belum juga mengirimi surat dan uang untuk keluarga di pematang sawah yang sudah bukan milik mereka lagi. Profesinya kini bukan lagi petani, mereka buruh tani. Sebab kehendak orang kota sudah terlalu buas, perusahaan-perusahaan semakin ganas. Rakyat kecil, dipinggir saja ya. Mengemis bulir padi yang sudah tak sanggup lagi ditumbuk lesung. Sebab padi sudah diracuni, tanah telah di dengungkan mantra-mantra serupa. Sebab alam sudah dikuasai. Sebab tangan-tangan petani sudah diganti traktor-traktor malas—mesin pekerja yang tak boleh mengenal lelah, seperti Bilur dan kawan-kawannya di kota. Sebab bendera dwi warna sudah terlalu usang untuk dihormati diluar lapangan upacara. Sebab lagu Indonesia Raya hampir kehilangan makna. Sebab. Sebab. Sebab… Terus saja, sampai lembab! Lanjutkan, wahai penguasa!

Internationale kembali berdengung, mengantar para pekerja pada lelah.
This is the final struggle
Let us group together, and tomorrow
The Internationale
Will be the human race

Ia meninggalkan kantor dengan langkah lunglai menuju tempat parkir. Membetot gas sekenanya, menggeluti senja di Jakarta. Senja yang kehilangan pesona. Tanpa makna juga rasa.

Sampai di rumah, ia menutup dan mengunci pintu. Melangkah menuju kamar mandi untuk mencuci muka, berharap lelah ikut luruh bersama air. Lampu dipadamkan, ia harus beristirahat. Bukan untuk dirinya, tapi untuk para pemimpinnya. Sebab ia harus kembali segar keesokan harinya. Produktivitas perusahaan tak boleh berkenalan dengan lelah. Tak boleh bercumbu dengan malas.
***

“permisi, selamat pagi…” pintu diketuk sepagi ini, Bilur tidak terbiasa menerima tamu. Apalagi untuk usia hari yang baru saja lahir. Dengan malas, ia beranjak dari kasur lapuk tanpa dipan. Melangkahkan kaki sambil menggosok-gosok mata, merapal mantra berupa sumpah serapah pada dirinya sendiri yang geram kedatangan tamu sepagi ini.

“Siapaaaa?” teriaknya malas, masih di dalam rumah. Perlahan ia pegang daun pintu, sambil menengok jendela. Mengedarkan pandang.

“Antonio! astagaaa, kemana ajaaaa ton… Kamu kok tahu alamatku disini? Waaah, udah lama banget kita gak ketemu ya? Sini masuk, masuk.” Wajah malas itu segera dilipat, berganti sumringah kedatangan tamu seorang teman lama. Teman baiknya sewaktu di desa. Mereka berpelukan, saling menggungcang badan sambil menepuk pundak satu sama lain.

Bilur segera bergegas menjerang air untuk dua cangkir kopi, berlari menuju warung mpok Minah untuk sebungkus kretek. Sebuah prosesi menyambut pagi yang sudah jarang ia lakukan, ia mungkin sudah lupa kecintaannya pada kopi, kretek, dan pagi yang ia pelihara sedari dulu. Kota membinasakan seluruh sikap lambat, seluruh tabiat kontra-produktif.

Sementara Bilur menyiapkan ritual ‘sarapan pagi’, Antonio mengedarkan pandang ke seluruh ruangan. Menangkap tanda-tanda, menyerap simbol-simbol yang berbicara lewat benda-benda di ruangan ini. Disela-sela itu, ia tersenyum tipis, mungkin miris. Kota memberi takdir yang berbeda pada setiap pelakunya. Ia yang kini meskipun tidak kaya tapi hidup berkecukupan—bekerja dengan gelora yang menyala-nyala, sebab bidangnya merupakan minat dan mungkin bakatnya—sementara sahabat kecilnya bekerja sebagai mesin, hidup serba kekurangan disini, di sepetak kecil rumah kontrakan kumuh. Di gang-gang yang terlipat megahnya bangunan tinggi Jakarta. Gedung-gedung jumawa.

“ton, gulanya masih sedikit?” Bilur tahu betul dengan kopi kesukaan sahabat lamanya itu. Tiga banding satu, rumusnya. Tiga sendok kopi dan satu sendok gula untuk secangkir semangat di pagi hari.

secangkir kopi menguarkan aroma legendaris dari tanah Ethiopia, kretek, dan gerimis yang menyusun pagi,
sempurnalah komposisi hari.



“iya, eh Bil, denger-denger kamu udah setahun gak pulang ke kampung ya? Banyak yang berubah dengan kampung kita Bil. Setiap hari, alat-alat berat mulai masuk desa, kabarnya sih kampung bagian selatan akan diubah menjadi hotel dan cottage. Aliran sungainya mau dibendung, biar bisa dipake water sport katanya, dibuat juga danau buatan dan taman-taman gitu deh kalau aku lihat di baligo proyeknya. Wika yang ngerjainnya Bil, perusahaan tempat kamu kerja kan? Oh iya, emakmu selalu titip pesan setiap kali aku ke kampung, ia minta diberi kabar. Ia khawatir dengan hidupmu di kota. Kabari lah Bil, tulis surat.

”iya Ton, tapi aku gak punya muka kalau pulang ke kampung. Belum hasil apa-apa disini, mau tulis surat juga malu, gak bisa sekalian kirim uang. Lha wong hidup aku disini aja udah kepepet gini. Gimana kabar emakku Ton? Aku juga khawatir, semenjak kakaku meninggal, ia hidup sendiri di kampung”

Bilur menerawang jauh. Matanya nanar membayang lanskap yang terpapar dalam memori. Lalu ia mulai ingat, ia harus berangkat kerja. Tapi disini ada teman lamanya, ada kabar dari kampung. Ia memutuskan untuk bolos kerja hari ini, kabar dari kampung membuatnya malas beranjak. Kabar dari kampung lebih menarik dibandingkan ceracau dan gerutu si bos tentang efektivitas dan efisiensi. Di kampung ada kicau burung, ada gemericik aliran sungai, ada embun, ada sawah yang hijau, ada hidup. Ada satu-satunya keluarga yang masih ia miliki. Dan kini ada Wika juga!

Ia menghisap kreteknya dalam-dalam, menghembuskan asapnya ke udara yang berebut tempat dengan asap pabrik dan polusi kendaraan bermotor. Mencecap kopi, menghisap lagi, asap membumbung, merangsek ke seluruh sudut ruangan.

“ya gak usah maksain lah Bil, yang penting kamu kasih kabar emak. Kasihan, ia masih trauma dengan kepergian kakakmu. Kabarnya—begitu juga yang ia lihat setiap aku pulang ke kampung—emakmu setiap pagi selalu membuka jendela, mendengarkan suara kerikil yang terseret kaki, menanti. Kemudian membuat dua cangkir kopi hitam untukmu dan kakakmu. Ia lakukan setiap pagi. Miris lihatnya Bil.”

Memang, kota bagi emaknya Bilur—yang belum pernah ke Jakarta itu—bagaikan raksasa besar yang siap memakan siapa saja yang lengah. Kakaknya Bilur meninggal di kios rokok miliknya di jalan Semanggi, ketika peristiwa 11-13 November 1998 pecah. Selalu, setiap peristiwa membawa ‘efek domino’ yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya.

“Aku kira emak udah gak gitu, Ton. Sebelum aku ke Jakarta, ia sudah baik-baik saja. Ah, aku pengen pulang Ton.”

“setelah kepergian kakakmu, emak cuma punya kamu Bil. Sekarang kamu pergi, tanpa kabar tanpa surat. Sudah setahun. Jelas, emakmu tertekan. Sempatkan pulang lah, kalau engga juga ya tulis surat.”

“iya Ton, nanti aku coba minta cuti. Aku jual aja deh ini motor butut, buat biaya pulang ke kampung dan uang buat emak, biar emak tenang, aku disini baik-baik saja.” Ia masih dengan kreteknya yang tak mau lepas dari bibir hitamnya.

“yaudah, kamu ke kantor gih! Nanti telat loh. Aku numpang tidur disini ya, capek Bil baru dateng tadi pagi aku langsung kesini.” Ia merebahkan badannya di ruang tamu yang multifungsi sebagai kamar.

Bendera dwi warna masih berkibar dengan jumawa, meski makna telah kehilangan tempat. Di gang-gang kecil seperti ini, tak ada cinta. Tak ada Indonesia, yang ada hanya sebuah tanya. Besok, masihkah tanah Jakarta mau memberi makan kami?
***

Emaknya di kampung halaman masih setia membukakan jendela setiap pagi. Duduk di teras sambil menanti, mendengar bunyi kerikil yang terseret kaki, berharap kaki itu akan berbelok ke rumahnya. Ia masih membuatkan dua cangkir kopi. Duduk di teras sambil menangis, memandang alat berat berlabel Wika menjamah kampung mereka, menekuri nasib seorang diri. Menjelang siang, jendela ditutup. Sebab Wika membuat kampungnya penuh debu, mengerak di setiap atap rumah. Sebab pepohonan mulai pergi dari kampungnya, berubah fungsi menjadi mebel-mebel cantik berbalut mimpi yang ditayangkan setiap hari melalui layar televisi. Sebab tak ada kaki yang berbelok ke rumahnya. Mereka tak pernah tahu kemana semua karunia itu pergi, mungkin ke negeri yang entah. Negeri milik para elit. Negeri televisi yang penuh basa-basi dan omong kosong sarapan pagi!

Semasa remaja, Bilur sempat memiliki cita-cita ingin mendirikan percetakan dan penerbitan. Kecintaannya terhadap buku sedari dulu memang begitu mendalam. Dan kondisi selalu membuat ia geram. Ia sadar, cukup banyak anak-anak Indonesia yang ingin membaca buku tapi tak punya akses ke arah sana. Apalagi bagi anak kampung sepertinya, tak masuk akal bisa membaca buku-buku bermutu. Kalaupun ada perpustakaan, ya bukunya dari pemerintah. Yang isinya tidak bisa tidak, kita harus akui masih jauh dari mutu. Sudah terlalu banyak kepentingan yang bergumul diantara para elit di negeri ini. Jangan-jangan nanti bukan hanya buku-buku yang dibredel—dengan alasan mengancam stabilitas nasional atau sederet alasan lainnya—bisa jadi sebelum gagasan itu tumpah dalam rententan teks, sudah diberedel. Jangan-jangan sejak dalam pikiran, sudah diberedel. Itu artinya kepala-kepala yang mengancam stabilitas nasional harus dipenggal.

Harapan itu mungkin masih mengendap di dasar jiwanya, seperti trauma upacara bendera yang belum mau pergi dalam dirinya. Bagi Bilur, sejarah tidak seperti yang tertulis dalam buku-buku pelajaran. Juga tidak seperti yang digaungkan di televisi oleh para tokoh politik bangsa ini. Sejarah bagi orang-orang seperti Bilur tidaklah pernah melangkah lebih maju. Bahwa hidupnya kini tidak lebih baik sudah menjadi bukti yang lebih dari cukup untuk membuktikan bahwa sejarah tidak selalu berpihak pada orang-orang seperti mereka.

Bendera dwi warna masih angkuh menantang angin. Angin yang mengabarkan kekalahan,  mewartakan aroma busuk. Entah dari sudut kota sebelah mana, ada saja aroma kekalahan. Ada saja suara kekalahan dari manusia-manusia yang tak pernah diperhitungkan, manusia-manusia seperti Bilur.

Bilur berangkat menumpangi metromini, sebab motornya sudah berhasil ia jual. Hari-harinya  masih bergelut dengan pagi, dengan matra-mantra yang serupa, dengan upacara bendera yang semakin kehilangan makna.

“Bil…” suaranya berat, ucapannya seperti tercekat di kerongkongan.
“emakmu…”
“kenapa Ton?”
“emakmu,” Senja yang terlihat dari jendela metromini semakin merah keemasan. Mega-mega beriring menuju dunia yang entah.
“emakmu di rumah sakit Bil… kamu harus cepat kesana, harus ada keluarga yang menanggungnya, kalau tidak, operasi tidak bisa dilakukan. Aku gak bisa kesana, aku sedang di Makasar.”

“Sabar ya Bil…” Sambungan diputus. Bilur tertunduk, tak mampu marah, sebab hidupnya sudah terlalu sering dikunjungi kekalahan. Senja yang kemerahan itu tiba-tiba pecah, metromini menjadi merah, seluruh sudut kota menjadi merah. Mega-mega pergi menjauh.
Ia segera bergegas, menuju stasiun dan membeli tiket paling pagi menuju kampung halamannya. Kemudian memilih kursi dekat jendela, meratapi jalan yang berlalu seiring dengan laju kereta, ada kenang disana. Kenangan yang datang sambil lalu. Sebab bagi orang seperti Bilur, jangan-jangan hanya kenangan dan harapan yang dimilikinya. Sebab hari ini tidak pernah memihak mereka.

Begitu ia menapaki kampung halamannya, telepon genggamnya berbunyi kembali, ia melihat nomor tak dikenal.
“maaf, apakah ini dengan Bilur?”
“benar, ini dengan siapa? Ada perlu apa?” Ia menjawab sekenanya, sambil terus berjalan setengah lari. Ia melihat kampungnya sudah tak seperti dulu lagi.

“Dari pihak rumah sakit. Anda dimohon untuk segera ke rumah sakit, ada beberapa urusan administrasi yang harus di tandatangani sebelum kami menjalankan proses operasi.”
“oh iyaa, iyaa, baik pak. Saya sedang menuju kesana” hatinya semakin gusar, ia berlari. Terus berlari, sebab memang hanya lari lah yang mampu dilakukannya.

Akhirnya ia sampai di rumah sakit, melewati halaman depan, disana berkibar dengan jumawa sang bendera dwi warna. Ia terus berlari menuju resepsionis, meminta petunjuk ke arah mana ia harus menemui ibunya. Sampailah ia di ruangan 708C, tak ada siapapun di depan ruangan itu. Tak ada yang menunggui emaknya sambil terduduk menangis. Ia semakin gusar, sekujur tubuhnya kini sudah dibanjiri keringat dingin.

“Permisi, dok. Apa benar ini…”
Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, dokter itu meyambar “Anda pasti Bilur?”

“Betul dok, bagaimana ibu saya?” seluruh organ tubuhnya sudah tak bisa berkompromi dengan apa yang diperintahkan otak, badannya bergetar hampir menggelepar! sementara keringat dinginnya kini sudah sampai membasahi seluruh bajunya.

“Mohon maaf, kami sudah berusaha sebisa mungkin, Ibu anda tidak bisa diselamatkan”
Dokter itu melenggang ringan, setelah menepuk bahu Bilur yang ambruk di koridor rumah sakit. Ia pergi, lalu menghilang diantara lorong-lorong bangunan putih itu.

Bilur segera berlari menuju pelataran parkir. Membuka bajunya. Lalu menghadap bendera. Ia berteriak sekuatnya. Menangis sekencang-kencangnya. Sejarah berulang, dengan muka yang berbeda dan melalui tangan yang berbeda pula.

Seperti harapan yang pergi menjauh, mimpi yang terbang tak mau menepi, bendera yang pucat. Tubuhnya mendadak ingin pecah, ingin membumbung bersama mega-mega yang dibanjiri semburat senja. Baginya, hidup hanyalah sebentuk kewajiban yang getir. Serupa upacara bendera yang tak pernah ia mengerti, tapi toh tetap harus dijalani.

Tidak bisakah kita mencintai Indonesia dengan cara yang berbeda? Agar cukup sudah semua basa-basi dan omong kosong di televisi dan koran pagi.
***


Untuk sang dwi warna
—yang dengan lirih, aku mencintainya…

ARF,
5 April 2012



_____________________________________________________
[1] Naskah Cerpen ini dibuat berdasarkan 'niatan' yang gagal, untuk sebuah lomba cerpen yang diadakan di http://mjeducation.co/mj-education-short-story-competition-lomba-cerita-pendek-2012/ sebab saya merasa cerpen ini kurang 'cocok' untuk lomba tersebut, maka saya masukan cerpen lainnya dan yang ini masuk blog deh :)
[2] Dikutip dari Album Prosa Puthut EA; Dua Tangisan pada Satu Malam. Yogyakarta; 2003

Leave a Reply

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...