Diberdayakan oleh Blogger.
.

Hariono dan Etos Kerja


posted by Azhar Rijal Fadlillah on

No comments

Bagi masyarakat Bandung, siapa yang tidak mengenal Persib. Klub sepakbola yang berdiri sejak 1933 ini sudah menjadi pemersatu segala golongan, komunitas, dan aliran hidup berbagai massa di Bandung. Bila Persib bermain, terutama di Bandung, tidak peduli kelas, etnis, golongan, apalagi gender, semua bersuka-cita meneriakan yel-yel semangat untuk Maung Bandung.

Setiap akhir pekan, warga Bandung bisa melepas penat dengan menghadiri stadion Siliwangi untuk menyaksikan kesebelasan kesayangannya. Tak bisa dipungkiri lagi, sepakbola sudah menjadi hiburan alternatif masyarakat urban. Pasalnya jelas, dengan berbagai himpitan hidup di kota yang tidak banyak memberi ruang publik untuk berekspresi dan mencurahkan kreativitasnya, stadion mungkin memang salah satu jalan keluar. Bayangkan saja, dimana lagi masyarakat bisa berkumpul bersama dengan sejumlah kawanan untuk berteriak, bersuka-cita, bergembira, selain di stadion? Ya, memang banyak ruang-ruang alternatif yang hari-hari ini tumbuh bak jamur di musim hujan. Bandung memang telah menjelma menjadi kota seribu komunitas yang digadang-gadang sebagai kota kreatif (kere-aktif?! Hihihi). Tapi sekali lagi, dimana ruang bagi masyarakat untuk berkumpul dan bersuka-cita bersama selain di stadion? Meneriakan kata-kata sarkas sekalipun menjadi halal saat di stadion.

Coba bandingkan dengan kawanan yang ingin membicarakan isu-isu yang sering dikatakan subversif. Sudah banyak contohnya, penggerebekan dan pembubaran massa dengan cara yang tidak sehat. Padahal, mereka hanya berdiskusi atau sekadar bedah buku, tidak mengancam apapun. Apa isi kepala kita juga harus diatur oleh negara? Jangan-jangan, nanti kalau isi kepala kita di cap subversif, halal pula kepala kita dipenggal oleh negara.

Kembali ke sepakbola. Mungkin memang hanya dalam sepakbola lah fanatisme diperbolehkan. Hanya di stadion lah, seorang pelajar alim bisa meneriakan ‘anjiiing’ dengan lantang tanpa takut diceramahi guru agama atau guru kewarganegaraannya. Juga hanya di stadion lah; kelas atas, menengah, hingga bawah bisa bersuka-cita bersama untuk tujuan bersama: kemenangan tim kesayangan.

Hariono is Back!


Gambar diambil dari sini


Saya memang bukan analis sepakbola, bukan juga pemerhati yang taat, hanya seorang penikmat lapangan hijau. Tentu dengan begitu, komentar saya pada tulisan ini selanjutnya boleh jadi sangat ngawur dan cenderung ngelantur.

Kemenangan persib hari ini saat menjamu tim asal Kalimantan, Mitra Kukar dengan skor telak 5-0 tentu mengejutkan saya. Permainan apik para punggawa biru dalam beberapa pertandingan terkahir memang menunjukan tren positif, setidaknya dalam 5 laga terakhir persib tidak pernah kalah. Pada pertandingan kali ini, Hariono—seorang gelandang bertahan yang dikenal cekatan itu—kembali membela persib setelah cedera yang cukup panjang. Meski tidak menyumbang gol dan juga tidak memberi assist, penampilan Hariono pasca-cedera menunjukan semangat bermain yang luar biasa. Seperti biasa, ia adalah pemain yang paling bernas di lapangan, etos kerja nya selalu mengagumkan saya. Secara subjektif, saya menilai kemampuan Hariono tidaklah begitu istemewa dalam teknik dan skill namun mempunyai daya juang yang tidak dimiliki pemain lainnya. Etos kerja inilah yang saya ingin soroti kali ini.

Kita tentu sering bertemu dengan orang-orang yang ‘biasa’ saja di lingkungan kampus, kerja, maupun komunitas. Namun dengan segala keterbatasannya, orang-orang seperti ini seringkali memiliki etos kerja yang terus menyala, daya hidup yang luar biasa. Sudah cukup banyak kenalan saya yang jadi contohnya, mereka sukses bermodal semangat dan ketekunan. Kemudian orang-orang yang merasa dirinya lebih pandai, berkapasitas, dan merasa lebih pantas mendapatkan posisi itu merajuk: “aaah dia gak punya kemampuan apa-apa juga, kok bisa sih dapet promosi terus?!”

Pierre Bourdieu sejak jauh-jauh hari sudah pernah membicarakan soal Habitus dan Social Capital. Secara sederhana kita bisa memahaminya sebagai kemampuan individu untuk menilai dirinya dalam arena sosial—Badiou lebih suka dengan diksi ‘arena’ sebab memungkinkan adanya interaksi yang kompetitif dan tarik menarik secara intens dalam skala sosial— untuk kemudian dapat menempatkan diri sesuai dengan apa yang dimilikinya. Dalam hal ini, Hariono mungkin paham betul bahwa dirinya tidak memiliki kapasitas sprint, dribbling, shooting, dibandingkan dengan rekan-rekan satu tim nya. Maka dari itu ia menawarkan semangat dan daya juang yang luar biasa, suatu hal yang tidak dimiliki pemain lainnya, sebaik Hariono.

Etos kerja yang seperti inilah yang cenderung mulai hilang dalam diri anak muda. Jiwa-jiwa yang sudah kadung terpatri semangat revolusi (hah?! Revolusi? Apa kabar bung!) ini lah yang sering mengabaikan satu hal penting ini: etos kerja. Berapa banyak anak muda yang berteriak: “Pasti ada yang gak beres dengan sistem pendidikan kita”, “Ah, pasti ada main nih dibalik setiap kebijakan politik” dan ungkapan-ungkapan serupa lainnya. Tapi coba saya tanya, berapa banyak dianatara mereka itu yang lantas menindaklanjuti hipotesisnya dengan upaya penelitian, ya minimal yang kecil-kecilan. Lalu menuliskannya, bahkan membukukannya. Berapa banyak?!

Kita selalu ingin serba cepat, budaya instan macam Indonesian Idol sudah menjadi sarapan mentalitas kita. Inginnya, yaaa kalau mengetahui kebenaran langsung tumpas yang salah, adili yang bersalah, dan yang benar harus menang. Kadang hidup tidak sesederhana itu, kawan. Ada banyak jalan-jalan kecil, kelokan, lumpur, dan ranjau yang harus kita telan sebelum kemenangan digenggam.

Hari ini, Hariono yang bahkan mungkin tidak sepintar mahasiswa-mahasiswa yang turun ke jalan, pemuda-pemuda yang mengenakan toga dan lulus dengan predikat cum laude, menunjukan kepada kita semua bahwa memang tidak mesti semuanya menjadi nahkoda, ada peran lainnya yang tetap mesti dijalankan dengan totalitas. Nahkoda tidak selalu lebih terhormat dari awak kapal lainnya.
**


ARF
2 Juni 2012

Leave a Reply

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...