Diberdayakan oleh Blogger.
.

Ekalaya


posted by Azhar Rijal Fadlillah on

No comments




Kekasih, sedari pagi aku sudah duduk menanti
untuk secangkir kopi yang lahir dari adukan tanganmu.
Lamat kemudian terdengar keretan pintu,
yang nampak ternyata bukan kamu, hanya teriakan dari buku, puisi, juga lagu-lagu.

Sudah, sudah pernah kusimpan hati ini jauh-jauh di lemarimu.
Agar kelak rindu tak mengepungku kala tubuh kita menjauh,
tapi sia-sia, sebab aroma mu tertinggal di lengan jaketku.
Percuma saja aku mengelak rindu.

Deretan peristiwa yang terpajang di dinding kamarku,
mereka kian memanjang, menyusun jalinan waktunya masing-masing.
Terpaku mereka menatap, terdiam aku menekurinya.
Kekasih, sudah berapa lama kita tak bercumbu?
Mungkin terlalu lama rambutku tak lagi kusut.

Kekasih, di luar malam telah menjadi perak.
maka hadiahi aku sebait puisi, jika pelukan tak mampu kau beri lagi.
Agar aku merasa pernah dicintai.

Sebab puisi hanya mampu menyusun jarak, mengekalkan yang sudah.
Sementara tubuhmu dan bait-bait cinta yang terkandung didalamnya,
Selalu akan,
menjadi,
dan tak pernah berdiam dalam pusar waktu.

Lalu secangkir kopi menjadi dingin,
malam berubah kelabu.
Seluruh musim dan cuaca rontok.

...hadiahi aku sebait puisi, jika pelukan tak mampu kau beri lagi.
agar aku merasa pernah dicintai.


-untuk Ekalaya, biar aku yang membunuh (kembali) Arjuna.




Azhar Rijal Fadlillah
Lembang, 14 Agustus 2012

Leave a Reply

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...