Diberdayakan oleh Blogger.
.

Di Sudut Penantian


posted by Azhar Rijal Fadlillah on

No comments


Di Sudut Penantian*

;Sebuah Ruang Tunggu




Ketika aku menemui orang-orang yang berderet, berbaris, berkumpul, membentuk kerumunan-kerumunan, aku selalu beranggapan ada yang mereka sepakati dan mereka tunggu bersama. Sebagai sebuah tujuan kolektif. Mungkin mereka sedang mempersiapkan sesuatu, sebab segalanya dalam hidup ini memang memerlukan persiapan. Hidup kadang tak mau berpihak pada mereka yang malas mempersiapkan. Selalu, setiap harinya aku menyaksikan kerumunan orang-orang yang bersiap dan bergegas adalah mereka yang menjadi pemenang, atau paling tidak sedang berada di jalur menuju kemenangan.

Orang-orang bertemu, bercakap, saling menukar tanda, beberapa menakar makna, berbagi kemungkinan juga informasi, menyusun satu dengan lainnya, memetakan.

Orang-orang bergegas, berpakaian rapih, berparas menarik, mencukur kumis, memotong rambut, wangi tubuhnya menyebar ke seluruh sudut. Mereka membaca buku, menghadiri diskusi atau bedah buku, berdebat, musyawarah-mufakat, menekuni kuliah, tak lupa juga untuk bercinta.

Hampir semua orang sedang begitu sibuk, begitu serius. Padahal jika aku perhatikan, mereka hanya sedang mempersiapkan. Mungkin, untuk kehidupan yang nantinya akan berlangsung. Kelak.

Mereka sudah sibuk, terlalu serius. Bahkan sedari persiapan.

Sejujurnya, aku lebih banyak muak dengan persiapan yang serba tergesa-gesa ini. Bahkan banyak sekali yang menganggap ini adalah sebuah simulasi yang harus ditekuni dengan keseriusan maha agung. Kelak, hidup itu akan seperti ini, makanya yang serius dong mempersiapkannya! Begitulah kuanggap mereka menceramahiku.

Orang-orang menamatkan beberapa gelar akademik, membuka bercabang-cabang bisnis, pergi ke bank, gymnasium, perpustakaan, mereka pergi juga ke taman kota, pusat hiburan, pusat perbelanjaan. Orang-orang membangun nama, membentuk sindikasi, memperluas jejaring pertemanan, membuka sejumlah kemungkinan-kemungkinan, menjaga citra, menyusun pundi-pundi ketenaran, dan aku merasa semakin tersudutkan. Aku semakin terancam rapuh, renta, membusuk, dan punah.

Semua itu semakin membuatku terbebani dengan ancaman bahwa hidup yang kelak akan berlangsung lebih keras, lebih membosankan, lebih memuakkan, dan tentu saja lebih melelahkan. Aku semakin tegang, panik, terasing, dan cenderung menjadi malas, semenjak dari cara mempersiapkan hidup.

Dalam tahap persiapan ini pun, bagiku semua sudah tampak busuk dan membosankan. Maka kalu bisa dan boleh, aku enggan untuk hidup yang kelak itu. Cukup sampai pada tahap persiapan saja. Hidup yang kelak akan berlangsung, yang sesungguhnya itu, aku tidak ingin terlibat didalamnya.

Jika dalam tahap persiapan ini aku tidak pernah diajak duduk bersama dulu, untuk membicarakan, berdiskusi, maka tolong ajaklah aku duduk bersama sebelum kehidupan yang kelak itu akan berlangsung. Aku akan memohon untuk tidak terlibat saja di dalamnya.

Ah, pastilah di kehidupan yang kelak itu masih ada jalanan yang macet, pesta-pesta yang hingar bingar, orang-orang yang salah paham, sms-sms merayu, percintaan, koran pagi, nasi goreng, kecurangan, ketidakadilan. Aku cukup sampai di sini saja ya, pada tahap persiapan.

Kamu, kalian, mereka, telah benar-benar bersiap. Dengan sangat serius. Tapi aku masih tetap saja didera rasa enggan dan malas yang akut.

Sungguh, aku meyakini betul bahwa hidup ini belum benar-benar berlangsung. Apesnya, hidup yang kelak tetap saja akan berlangsung. Sementara aku masih enggan. Aku hanya akan menjadi remah-remah roti, serpihan paling kecil, rapuh, rentan untuk lebih dulu membusuk dan tersingkir. Bahkan sedari sekarang, sedari persiapan.

Ruang tunggu hidup yang tidak nyaman. Besar, ramai, hingar-bingar. Sementara waktu terus berjalan membawa pengertiannya masing-masing. Orang-orang terus diberi kesempatan untuk berlomba, bergegas, serius, dan tidak peduli. Tidak jelas batas akhirnya, tidak juga jelas tanda-tanda akan berakhirnya.

Orang-orang semakin banyak dan bergegas. Rombongan semakin membesar dan padat. Aku tak mau ikut bersiap. Sungguh tak mau.

Tentu selalu ada saja barisan orang yang enggan seperti aku. Orang-orang yang suntuk dan muram. Mereka masih saja duduk-duduk malas di warung kopi, masih saja ada yang bersembunyi dari rombongan yang bergegas di balik jendela kamarnya yang buram.

Seperti aku hari ini, baru saja datang kiriman buku Musashi-nya Eiji Yoshikawa dan The Lone Samurai- sebuah biografi Miyamoto Musashi dari Bekasi. Buku setebal 1247 halaman dan 319 halaman ini akan aku coba santap dalam waktu satu bulan.

Jika nanti beraknya mencemari hidung-hidung anda yang sedang bersiap dan bergegas, mohon maaf. Anda bisa singkirkan saja bau itu dengan segayung air lalu semprotkan parfume kesukaan anda. Jalan seorang soliter memang seringkali menggangu keharmonisan hidup. Sedari persiapan.
OoO

*) Sebuah adaptasi atau bahkan (mungkin) plagiarisme dari karya Puthut EA; Sesuatu Yang Mencekamku

ARF,
Jatinangor, 6 September 2012

Leave a Reply

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...