Diberdayakan oleh Blogger.
.

Menghadap Langit Timur


posted by Azhar Rijal Fadlillah on

No comments





Pagi ini aku duduk dengan posisi sempurna menghadap langit timur. Dengan kekhusyukan yang sama sempurna nya ketika seorang muslim sedang beribadah. Menghadap langit. Menghadap langit.

Tidak ada bising racauan anak muda dengan segala optimismenya, juga dengung suara penderma ketika membagikan rahmatnya, apalagi para pengusaha yang nyaris tak pernah kehabisan tenaga untuk berteriak tentang produktivitas dan efisiensi produksi. Tidak ada gegas tangkas barisan orang-orang yang bersiap menuju lumbung emasnya, juga nyanyian parau tentang masa depan yang juga masih patut aku curigai. Tidak ada. Hanya menghadap langit. Menghadap langit. Menghadap langit timur.

Di kejauhan, sekumpulan burung murai dengan ekor hitamnya bermain bersama embun yang mulai luruh, digantikan terik yang akan segera menjadi. Aku masih terduduk dengan posisi sempurna menghadap langit timur. Konon katanya, segala sumber kehidupan berasal dari timur dan akan kembali pada batas horison di timur jauh sana.

Kamu akan menyadari puncak ekstase dari sebuah kesendirian ketika kamu tidak lagi mampu mendengar apapun, bahkan detak arloji pun tak mampu kamu dengar. Hanya nafas yang teratur keluar masuk rongga dada yang akan menjadi satu-satunya bunyi-bunyian yang mampu kamu dengar. Kamu juga tidak mampu lagi merasakan apapun yang ada disekelilingmu, kesadaran ruang yang biasanya menjadi batas satu-satunya untuk memagari segala kemungkinan kini melebur dengan peristiwa waktu yang berkelindan dan tetap misterius. Tetap misterius! Pandanganmu kini menyatu dengan rahim semesta, dengan jantung waktu dan tulang-belulang kesadaran. Lantas, apa lagi yang mesti kita namai sebagai kesadaran jika kamu sendiri merupakan induk dari segala yang ada? Apa lagi yang harus kita tandai sebagai sebuah peristiwa jika kita adalah jarum jam yang melentingkan segala waktu, segala musim, segala cuaca?

Tubuhmu kini begitu ringan. Sangat ringan hingga kamu pun tak begitu yakin masih bepijak pada basah tanah.

Kota-kota megah nan jumawa telah jauh-jauh hari kehabisan daya pesona nya, halte-halte tua terlihat letih dan muram, bangunan kaca gemerlap kini beradu tinggi dengan ilalang yang tumbuh serampangan. Stasiun dan gerbong-gerbong dirayapi karat, kepergian menjadi suatu nisbiah dan kepulangan selalu menyertai setiap keberangkatan.

Matahari melentingkan tubuhnya hingga jauh, jauh diatas langit timur. Aku, kamu, dan kelak mereka akan berada disini. Sendiri.

Menghadap langit timur. Menghadap segala mula dan akhir.

Leave a Reply

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...