Diberdayakan oleh Blogger.
.

Paradoks Utulitarian


posted by Azhar Rijal Fadlillah on ,

No comments

Dalam normative ethics, utilitarianisme termasuk turunan dari teleological ethic, selain itu terdapat deontology, virtue ethic, dan relativisme. Jika ditinjau dari segi etimologinya utilitarianisme berasal dari kata utility yaitu utilitas atau kegunaan, artinya utilitarianisme adalah suatu paham teori etika yang menilai sesuatu yang bermoral dari manfaat atau hasil suatu tindakan. Maka dari itu utilitarianisme disebut consequentialist, yaitu teori yang menilai atau melihat konsekuensi dari suatu tindakan.


  •  Prinsip utilitarianisme
Seperti yang dikatakan diatas bahwa utilitarian adalah consequentialist, karena suatu tindakan bagi para utilitarian secara intrinsik tidak benar dan juga tidak salah, seperti membunuh, menepati janji, korupsi dan lainnya. Jika hanya dari tindakan-tindakan tersebut, tidak bisa dinilai salah dan benarnya, justru kebenaran dan kesalahan suatu tindakan  dinilai dari konsekuensinya. Apabila tindakan tersebut berkonsekuensi buruk maka tindakan tersebut dapat dikatakan salah, namun apabila tindakan itu berkonsekuensi baik maka tindakan tersebut benar.

Utilitarianisme hanya memiliki satu tujuan khusus yaitu jaringan kebahagiaan untuk semua (banyak orang). Manusia dalam bertindak atau melakukan sesuatu tiada lain karena dia ingin merasa bahagia, dengan kata lain semua manusia bergerak menuju kebahagiaan. Maka dari itu menurut utilitarian hasrat untuk kebahagiaan adalah universal, dan semua manuisa secara intuitif mengenali bahwa kebahagiaan adalah kebaikan tertinggi.

Tidak seperti egoisme yang menyatakan bahwa manusia itu bertindak atas dasar atau hanya karena kepentingan dan kesenangan mereka sendiri. Sebaliknya utilitarian meyatakan bahwa manusia secara alamiah mempunyai sifat simpati dan menunjukan kebahagiaanya untuk orang lain juga. Maka dari itu utilitarian tidak hanya menghitung kebahagiaan untuk sendiri, tetapi kebahagiaan untuk seluruh kelompok sentient beings yaitu suatu maujud yang bisa merasakan senang atau bahagia dan derita atau luka. 

Karena utilitarian hanya berorientasi pada kebahagiaan untuk sentient beings, dan semua manusia mengenalinya secara intuitif, maka dari itu menurut utilitarianisme, suatu tindakan benar atau bermoral jika mempunyai konsekuensi kebahagiaan bagi banyak orang, jika sebaliknya, maka tindakan itu dianggap buruk, salah dan tak bermoral.


  • Paradoks Kebenaran Utilitarian



Mari kita bayangkan suatu kondisi: kita menghadapi pilihan untuk menyelamatkan orang dari rencana pembunuhan. Kondisinya, kita memegang tuas kendali rel kereta yang akan melaju pada sekelompok orang (10 orang) yang terikat di badan rel tersebut. Tuas kendali itu dapat mengubah jalur kereta ke jalur lainnya yang hanya terdapat satu orang yang diikat. Pilihan yang kita miliki hanya dua itu, kita tidak memiliki cukup waktu untuk melepaskan tali ikatan 10 orang + 1 orang di jalur lainnya. Lalu, apa yang akan kita lakukan? Membiarkan kereta melaju di jalur yang akan menabrak 10 orang ataukan menggeser tuas yang akan membelokkan jalur kereta pada jalur yang hanya ada 1 orang terikat? 

Kebanyakan orang akan menjawab untuk menggeser tuas, menyelamatkan 10 orang tentu lebih baik daripada membiarkan 10 orang mati dan 1 orang selamat. 
Tapi bagaimana jika kondisinya sedikit diubah: disana tidak ada tuas penggeser jalur, sebab memang hanya ada satu jalur yang jauh didepannya sudah terikat 10 orang. Kesempatan untuk menyelamatkan 10 orang itu hayalah dengan mendorong 1 orang yang ada tepat dihadapan kita. 1 orang dengan badan yang diperkirakan cukup untuk membuat kereta anjlok dari relnya dan berhenti. Hanya pilihan itu yang ada. Apa yang akan dilakukan? 

Kebanyakan orang yang di pertanyaan pertama memilih untuk menggeser tuas agar kereta mengarah pada jalur 1 orang, menjawab tidak mungkin mendorong orang untuk menghentikan kereta, itu tidakan pembunuhan yang sadis katanya. Tapi bukankan kondisi pada pertanyaan pertama dan kedua tetap sama? mengorbankan satu orang untuk keselamatan 10 orang? Lalu kenapa jawabannya berbeda?



Leave a Reply

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...