Diberdayakan oleh Blogger.
.

Tidak Tersentuh Waktu dan Peristiwa


posted by Azhar Rijal Fadlillah on ,

No comments

Sepertinya baru saja aku menyingkirkan beberapa helai rambut yang menutupi sebagian wajahmu, menyelipkannya pada telinga kananmu. Lalu kamu menatapku cukup dalam. Sebuah tatapan yang tidak bisa tidak, menggiring aku pada sumur tua sebuah kota yang ditinggal pergi penghuninya. Padahal dulu kota ini terkenal dengan keriuhan pestanya, dengan gemerlap lampu-lampu kota yang genit. Sekarang, gedung-gedung angkuh itu hanya menyisakan sepi yang panjang, ilalang yang tingginya sudah duapertiga tinggi orang dewasa, tapi gedung-gedung itu masih saja belum abai dari pongahnya masa lalu.

Berbekal amarah yang kita bagi berdua, aku pergi menziarahi kota ini. Aku pergi menunggangi angin, masuk kedalam pusar segala cuaca, menyelinap ke jantung udara. Pada gang-gang kecil bau apak, telah kutemui bangkai-bangkai manusia berdasi, mereka semua mati dengan cara yang sama: mata kiri terbuka membelalak, hanya mata kiri. Seolah ada sesuatu yang begitu mengerikan menghampirinya sebelum ajal sampai di tenggorokan. Tentunya sebuah cara mati yang jauh dari kondisi tentram. Aku bergidik sebentar, lalu pergi. Bar dan diskotik yang dulu selalu mendentumkan suara-suara pelarut luka, dengan daftar menu cairan pemusnah ingatan, kini tak ada bedanya dengan gereja yang kudus. Ah, aku sangat mengingatnya, kamu punya menu favorit di bar itu. Setiap kali kamu meminumnya, matamu menjadi hijau, nafas hijau, tubuh hijau, suara hijau, lalu kamu lungkrah, ambruk. Kamu melawan, kamu melawan, kamu melawan. Tapi semua sudah menjadi hijau. Udara memberat. Udara memberat. Udara memberat. Menjadi hijau.

Diantara gedung-gedung yang berlomba mencium langit, sumur itu tetap ada di tempatnya. Seolah tidak tersentuh waktu, tidak tersentuh peristiwa. Konon, sumur itu adalah jantung kota ini, tempat segala yang ada bermula. Tapi ketika ditanya sejak kapan sumur itu ada disana, dibuat oleh siapa, tidak ada yang mengetahuinya. Pemerintah pernah mencoba meratakan sumur itu, menggantikan dengan mesin ATM. Keesokan harinya orang-orang tercengang, sumur itu kembali lagi ke tempat semula dan ATM nya hilang entah kemana. Dengan semangat modernitas yang menghamba pada rasionalitas, pemerintah kembali melakukan upaya penghancuran sumur itu. Kali ini mendatangkan alat berat dan pakar konstruksi beton. Hasilnya tetap nihil, sumur itu kembali lagi pada tempatnya ketika tidak ada seorangpun yang melihat. Berulang kali dilakukan, sumur itu tetap saja ada disana, anggun sekaligus angkuh. Pemerintah pun menyerah, lalu cerita bergentayangan dari mulut ke mulut tentang kisah sumur itu.

Sampai saat ini pun sumur itu tetap anggun di tempatnya. Kota ini sudah ditinggalkan berpuluh-puluh tahun yang lalu akibat bencana atomik, kegagalan percobaan di laboratorium yang menyebabkan radiasi mematikan yang entah sampai kapan akan ada di kota ini.

Aku tersentak, sesuatu menarikku sangat kuat dari belakang, melemparkan tubuhku ke udara terbuka. Aku bersiap, masih di udara terbuka. Aku bersiap, dengan belati pusaka para dewa. Menguhunus jantung udara, udara pecah, langit hendak ambruk seketika. Aku bersiap lagi, masih dengan belati puasaka. Aku bersiap, menghunus jantung sumur di tengah kota.

Kemudian semua hening. Ringan. Sangat ringan. Terlalu ringan!

Aku dibawa pergi entah oleh siapa, kemana. Mungkin menuju sebuah tempat yang jauh di ujung horison sana. Sebuah tempat yang tidak tersentuh waktu dan peristiwa.

Leave a Reply

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...