Diberdayakan oleh Blogger.
.

Meja Kursi, Kopi, dan Lain Lain


posted by Azhar Rijal Fadlillah on

No comments

"Wish You Luck" by Johnatan Martel

Entah sudah berapa lama Fadli tidak menyempatkan waktu untuk berbaur dengan keramaian. Bukan tanpa sebab juga, ia memang bukan jenis laki-laki yang suka kerumunan, alih-alih cukup membencinya. Tapi barangkali ini adalah durasi terlama ia memberi jarak pada dunia luar, sudah lebih dari sebulan ia mengurung diri di kamar, hanya keluar ketika matahari telah turun, itupun hanya untuk membeli makan, rokok, dan beberapa botol bir untuk persediaan sekian hari.

Hari itu Fadli memutuskan untuk menghubungi seorang temannya, membuat janji bertemu di sebuah kafe di tengah kota. Ia segera mandi, musik diputar dengan suara paling kencang. Selesai mandi ia menghadap cermin, terperanga melihat wajahnya sendiri, kumis dan jambang tumbuh berantakan seperti belukar di tanah tak bertuan. Astaga, hidup macam apa ini.

Semenjak hubungan cintanya gagal di tahun ketiga, ia mulai malas untuk bercakap-cakap, bahkan dengan teman terdekatnya sekalipun. Ia meyibukan diri dengan banyak-banyak membaca buku, menulis, dan sesekali menonton film. Semua kegiatan itu dilakukannya di dalam kamar. Ia memang tidak menangis, tidak setetespun air mata tumpah. Baginya, kesedihan dan air mata adalah dua hal yang amat berbeda. Pernah sekali waktu air matanya bunting di sudut mata hanya karena melihat meja kursi dengan cangkir kopi yang sudah tinggal sepertiga. Tidak jelas sebabnya apa ia menangis dan memang tidak perlu diperjelas. Ada hal-hal yang perlu diperjelas dan tidak sedikit juga yang terjadi begitu saja, tidak perlu dan tidak harus diperjelas.

Tidak juga terlintas sedikitpun di hatinya untuk mencari perempuan lain. Bukan karena kenangan masih menghantuinya, ia cukup yakin bahwa kenangan akan selalu ada bersama hidupnya dan tidak perlu dihadapi dengan nanar. Ia hanya malas. Hanya dengan membayangkannya saja ia sudah malas, teramat malas. Bukan karena ia takut untuk terluka lagi, ia hanya malas melakukan pengulangan proses berkenalan, mengirimi pesan-pesan singkat sambil sesekali menyusupkan petanda bahwa ada potensi hubungan ini berangkat ke arah yang lebih serius. Ia hanya terlalu malas untuk menelepon, berbagi kabar, berbagi pundak, berbagi pengalaman, kemudian merumuskan. Ia hanya terlalu malas untuk mengantar dan menemani ke kampus, mall, pameran, toko buku, acara amal, acara pesta, klub malam, acara dansa-dansi, kemudian merumuskan. Ia hanya terlalu malas untuk mendengar cerita tentang masa lalu pasangan kencannya, mendengar cerita sedihnya, berpura-pura empati, berpura-pura peduli, kemudian merumuskan. Ia hanya terlalu malas untuk dipaksa mengerti dan memaksa pasangannya mengerti hal-hal yang terlalu rumit untuk dipahami, kemudian merumuskan. Ia hanya terlalu malas, bahkan untuk sekadar berniat melakukannya sekali lagi.
 

Ia memang tidak pernah menyukai keramaian, tapi bukan berarti ia seorang lelaki pemurung yang menyuntuki hari demi hari di dalam kamar. Ia hanya tidak suka bertemu dengan orang asing, bercakap, saling memetakan, saling merumuskan. Pada proses seperti itu, ia percaya, yang didapat hanyalah rentetan kepura-puraan, fragmen-fragmen acak seperti kolase yang dibuat seniman amatir. Fadli lebih banyak diam ketika terpaksa terlibat pertemuan atau percakapan dengan orang-orang asing yang tidak begitu ia kenal, diam yang bukan memperhatikan, tidak juga pantas dikatakan diam yang tidak mengerti. Kapasitas otaknya cukup besar untuk memahami hal-hal yang bahkan baru didengarnya sekali lewat. Ini hanya seperti diam yang tak acuh. Diam yang cenderung menyebalkan bagi orang-orang di sekelilingnya. Betapa tidak, orang-orang belakangan ini jadi gila perhatian, gila hormat, gila penghargaan. Semua orang merasa ucapannya penting, layak didengarkan, pantas diperhatikan dan dikomentari. Padahal, tidak segala hal dalam dunia ini menjadi penting. Pergerakan grafik pasar modal yang bagi sebagian orang dianggap sangat penting, mungkin bagi orang lainnya tidak lebih dari coretan anak taman kanak-kanak. Bukan tidak mengerti, hanya saja tidak mau mengerti, sebab memang tidak menarik dan tidak penting. Ya, tidak penting!

Penunjuk jam di sebelah kanan layar monitor sudah menunjukkan pukul tiga. Fadli segera bergegas keluar rumah, mengunci pintu, menyalakan mobilnya, melaju ke arah kota, ke arah orang-orang biasa berkumpul dan saling bertegur sapa.

Setibanya di kafe, ia langsung mengedarkan pandangan, tapi ia tidak menemukan temannya disana. Padahal jam tangan di pergelangan kiri tangannya sudah menunjukkan pukul 4.45. Segera ia mencari tempat duduk, ia memilih meja dengan empat kursi di pojok bagunan kafe itu kemudian memesan secangkir Java Arabica yang diseduh dengan aeropress. Pikirnya, mungkin sebentar lagi temannya akan datang, sebab mereka memang membuat janji bertemu pukul lima, masih ada waktu 15 menit untuk menunggu. Suasana di kafe ini agak ramai, meskipun tidak semua kursi terisi, tapi suasana riuh yang agak menyerupai kebisingan mendominasi ambience ruangan ini, sesekali terdengar sayup-sayup live music sebuah band dengan tiga personil lelaki paruh baya membawakan lagu-lagu Queen.

Kopi pesanannya tiba, tapi temannya belum juga telihat. Meskipun Fadli terkesan seperti lelaki yang tidak patuh dan tidak peduli, ia termasuk orang yang taat pada janjinya. Ia hampir tidak pernah telat jika membuat janji dengan orang lain. Baginya, janji adalah wujud pertaruhan tanggung jawab dan tepat waktu adalah pembuktian paling sederhana sekaligus paling mungkin dilakukan. Diluar, hari sudah beranjak semakin tua, udara terasa semakin ringan, jalanan di depan bangunan kafe ini mulai sibuk menata diri dengan lampu-lampu, seperti pelacur yang sedang bersolek di depan cermin sebelum hendak pergi mengumbar nafsu.

Seorang perempuan berusia sekitar duapuluh lebih sedikit duduk persis di meja sebelahnya, berkali-kali ia sibuk melihat jam tangan dan menunduk memainkan telepon genggamnya. Ia tampak gusar, gerak tubuh seperti itu jelas menunjukkan ia juga sedang menunggu seseorang yang terlambat datang.

Tapi tunggu dulu, jangan berharap cerita ini akan berujung pada kisah cinta dua orang yang sama-sama sedang menunggu. Mereka berkencan, saling bertukar informasi tentang dirinya masing-masing, jatuh cinta, bercinta, kemudian hidup bahagia. Tidak, ini bukan roman picisan, sudah terlalu banyak terhampar di Gramedia, ditulis entah oleh siapa, yang jelas si penulis pasti membubuhkan akun twitternya di sampul belakang yang berebut tempat dengan endorsment dari penulis senior yang juga entah siapa. Orang-orang sedang latah untuk menjadi penulis. Orang-orang sedang kecanduan untuk menjadi pusat, menjadi poros, ah salah, terlalu megah, mungkin hanya candu popularitas.

***


Fadli masih memberikan tambahan waktu, perpanjangan kesabaran, ia memesan lagi late yang dibuat cantik oleh sang barista dan sepiring baked potato. Perempuan disamping mejanya terlihat semakin gusar. Karena tidak ada kerjaan dan menunggu adalah pekerjaan paling membosankan, Fadli sesekali memperhatikan perempuan itu. Ia tampak manis dan energik. Seperti pagi yang bunting oleh sinar matahari, merekah cerah! Seperti anak kucing yang akan berlarian kesana-kemari dengan mata yang menyala. Padu-padan pakaiannya juga terlihat mengikuti zaman, meskipun Fadli tidak banyak bergaul, ia cukup paham dengan fashion tapi tidak pernah sedikitpun berusaha mengenakan sesuatu yang kekinian, ia pikir itu tidak cocok dengan dirinya.

Ini cukup aneh bagi Fadli, ia tidak pernah menaruh perhatian berlebih pada perempuan asing, secantik apapun perempuan itu. Ia hanya bisa tertarik pada perempuan yang memiliki kelebihan khusus, misalnya seorang pelukis (itupun jenis lukisannya harus sesuai dengan seleranya). Setelah ia merasa tertarik dengan karyanya, barulah ia memperhatikan penampilannya. Ia hanya tertarik untuk memperhatikan fisik perempuan jika ia memang berniat mencari pelacur saat mengunjungi klub-klub malam dan membayar perempuan untuk tidur di hotel bintang dua. Baginya, perasaan suka, apalagi cinta, tidak pernah ada kaitannya dengan kepuasan dari memandang paras cantik, lekuk tubuh, apalagi perihal seksual. Ia membentangi kedua hal tersebut dengan garis yang cukup jelas, antara cinta dan hasrat.

Tapi perempuan yang seperti pagi ini mencuri perhatiannya, kapling kesadarannya terpecah. Ia yakin ini bukan sejenis hasrat, bukan juga serupa cinta. Terlalu jauh untuk bicara cinta. Bahkan ia hampir tiba pada keputusan final tentang cinta: omong kosong belaka!

Tanpa disadari, perempuan itupun mencuri pandang ketika Fadli sedang sibuk dengan makanannya. Tidak ada yang begitu menarik dari penampilan Fadli, wajahnya memang tidak jelek, tapi sulit juga dikatakan tampan. Pakaiannya memang tidak menarik, tapi tidak juga norak. Semua dalam penampilan Fadli terkesan biasa-biasa saja, tidak ada yang layak diperhatikan ataupun jadi bahan cemoohan. Penampilan Fadli terlalu biasa untuk membuat perempuan tertarik mendekatinya.

"Hai, boleh aku duduk disini?" dengan permainan mimik muka, ia mengisyaratkan menunggu izin untuk duduk disebelah Fadli.
 "hmm, ya. ya... silakan" sambil menjawabnya, Fadli tidak sadar ia hampir saja menumpahkan kopi yang akan diminumnya.
"lagi nunggu orang ya? hmmm menyebalkan memang menunggu sendirian, rasanya waktu jadi berjalan lebih lama dari biasanya"
"suka minum kopi ya? kamu duduk sendiri tapi sudah ada dua cangkir kopi yang kosong" lanjut perempuan itu, seolah tidak memberikan kesempatan bagi Fadli untuk sejenak menata kesadarannya.

"iya...." jeda yang cukup lama tergantung diantara setiap kata-kata yang keluar dari mulut Fadli. "apalagi sedang menunggu seperti ini.."
Aku suka perempuan ini, berterus terang, dan punya kepercayaan diri yang luar biasa.

Sementara itu, live music mulai memainkan lagu-lagu The Beatles. Hey Jude sebagai pembuka. Fadli memang kehilangan kemampuan berbasa-basi sejak lama, ia agak bingung jika harus berhadapan dengan orang asing dan melakukan percakapan ringan seperti ini. Kebingungannya membuat ia tampak gerogi dan kehabisan bahan pembicaraan. Sebuah sikap yang lagi-lagi sulit membuat ia tampak menarik dihadapan perempuan.

"kamu kuliah atau udah kerja?" tanya si perempuan pagi, sambil menatap riang wajah Fadli
"kerja... hhhh.. kerja serabutan"
"oh, freelancer ya.. bidang mu apa?
"menulis. kadang penelitian kecil-kecilan. kadang juga konsultan bisnis."
"wah, hebat ya.. aku masih kuliah, aku juga pengen kerja seperti itu. gak usah terikat waktu kerja, kerja hanya kalau sedang mau saja. Sepertinya menyenangkan"
"sepertinya menyenangkan" ulang Fadli
"kamu merasa terganggu ya? kok daritadi sibuk banget ngaduk kopi, padahal kan kopinya sudah hampir habis" suaranya manja
"ah, tidak juga"
Mendadak perempuan itu cekikikan mendengar jawaban Fadli. Mungkin karena gaya bahasanya yang kadang terlalu kaku untuk obrolan ringan seperti ini.
"boleh minta api?" perempuan itu menyelipkan sebatang Camel Light di bibir tipisnya. Karena masih belum juga bisa menata diri, korek gas yang berusaha dinyalakan Fadli tidak juga mau menyala dan terjatuh ke meja berkali-kali.

Laki-laki yang aneh. Tapi manis juga dan sepertinya ia punya sesuatu yang menarik. Batin si perempuan pagi.

Fadli mengeluarkan bungkus rokok keduanya dari tas kecil yang ia simpan di samping meja. Tanpa sengaja perempuan itu melihat buku yang Fadli bawa.
"wah, kamu punya buku itu. Itu kan buku langka banget, beberapa tahun yang lalu aku pernah nyari buku itu dan sampai sekarang belum juga ketemu."
"buku? oh iya, ini hadiah dari seorang teman yang sedang kuliah di eropa. Kamu suka baca buku seperti ini?" itu adalah kalimat panjang pertamanya yang berhasil diucapkan dengan lancar. Obrolan mulai cair dan beranjak mengasyikan.

Fadli tampak mulai bisa menata sikapnya, mengatur tempo bicaranya, dan mengeluarkan tema-tema ajaib yang membuat si perempuan pagi semakin antusias. Dari sekian banyak percakapan yang berceceran di meja, tidak ada satupun obrolan yang berat dan tendensius. Semuanya hanya obrolan sambil lalu. Tidak ada adu argumentasi, saling pamer pengetahuan, saling pamer pandangan. Seolah mereka berdua sudah mafhum, dalam suasana seperti ini, dalam pertemuan tidak terduga seperti ini, tidak perlu membicarakan sesuatu hanya untuk menunjukkan dirinya hebat.

Fadil menyadari, perempuan ini juga ternyata mengasyikan. Tidak banyak basa-basi. Ketika ia tidak mengerti dengan satu atau dua ucapan Fadli, air muka nya berubah drastis, dahinya mengerut, ia tidak segan-segan memotong pembicaraan untuk bertanya sesuatu yang tidak ia mengerti. Sebuah kejujuran yang sudah jarang ditemui hari-hari ini.

"Maaf mas, mbak, last order jam 10. Ada pesanan lagi?"
Tanpa disadari, jarum jam melentingkan waktu dengan amat cepat. Terlalu cepat! Sudah pukul 10 malam.
"Enggak, minta bill nya aja ya"
"eh, kamu pulang ke arah mana? bawa kendaraan?"
Diluar hujan turun tidak begitu deras, tapi cukup membuat gigil jika harus kehujanan selarut ini. Karena si perempuan pagi memang datang dengan taxi, dan sudah selarut ini taxi di kota ini agak sulit dicari, ia akhirnya meminta diantarkan.

Jalanan kota sudah mulai sepi, lampu-lampu kota yang kuning temaram membuat pantulan jalan yang basah terlihat syahdu. Musik mengalun pelan di dalam mobil.

"boleh minta sesuatu gak? perempuan itu merajuk
"apa?"
"aku belum mau pulang ke rumah. lagian besok juga gak ada kuliah."
"oke, jadi kita kemana nih?
"hmmmm kita minum yuk? kamu udah pernah ke The Last World belum? tempatnya asik lho.."
Fadli mengerti maksud perempuan itu, ia ingin mabuk dan pulang ke rumah menjelang pagi.
"aku gak tau arahnya, tunjukin ya"
 "yeeeeeeeaaaayyy.... okeee" si perempuan pagi terlihat senang Fadli menerima tawarannya.

Mobil melaju kencang diantara basah jalan dan bangunan-bangunan pertokoan yang sedang beristirahat.

***

"Grasshopper ya.. Kamu mau apa?" setelah memesan, ia menoleh ke arah Fadli
"Gin and Tonic tanpa es"
"Hmmm... pilihan yang bagus, lagipula masih terlalu pagi untuk sesuatu yang terlalu memabukkan" sahut perempuan itu sambil mengerling genit.

Musik mix berdentum keras bersama teriakan tawa orang-orang. Mungkin mereka sedang merayakan sesuatu, atau sedang lari dari sesuatu, mencoba melupakan kenangan pahit dengan cara melarutkannya dengan minuman keras.

Mereka bedua duduk di meja bar, tepat didepan bartender yang sedang sibuk meracik minuman. Perempuan itu sebenarnya tahu, yang lebih membutuhkan keceriaan malam seperti ini sebenarnya bukan dirinya, melainkan Fadli. Ia tahu, Fadli baru saja menghadapi persoalan pelik yang bagi siapapun tidak akan pernah mudah menghadapinya. Tapi perempuan itu tidak melakukannya hanya demi Fadli, ia bukan malaikat yang diutus dewa-dewa untuk menghibur Fadli. Ia juga menikmati malam itu bersama Fadli. Sangat menikmati.

Malam semakin tinggi, musik masih belum lelah berdentum, orang-orang masih butuh waktu lebih banyak untuk tertawa dan sedikit hilang kesadaran.

"eh, nama kamu siapa? minta nomor dan alamat emailmu dong.. kapan-kapan kita harus keluar bareng lagi nih.."
Tiba-tiba Fadli tersentak oleh pertanyaan itu, mereka sudah begitu akrab sedari tadi, bicara banyak hal, tertawa, tapi bahkan tidak saling bertukar nama. Mereka tidak sedikitpun berbagi kemungkinan, menebar potensi akan sebuah kelanjutan dari pertemuan yang tidak diduga ini.

"Sepertinya tidak perlu. Keriangan seperti ini akan hilang jika kita mulai berbagi hal-hal pribadi, melakukan hubungan dan komunikasi yang intens dan pasti."

"Ah, iya juga ya... Aku suka kamu deh!" perempuan itu mencubit pipi Fadli dengan gemas dan manja.

Si perempuan pagi memesan Tequila dengan potongan jeruk nipis, Fadli memesan Bacardi. Mereka masih saling bercakap setengah teriak, beradu keras dengan musik yang berdentum. Mereka mabuk. Mobil melesat cepat menuju penginapan murah di pinggiran kota, mereka bercinta dengan riang gembira, sesekali tertawa.

***

Embun luruh, matahari meninggi, pagi mulai merekah. Fadli membuka jendela, menghirup udara dalam-dalam, udara terasa ringan. Ia menatap cermin, masih bingung dengan kejadian semalam, apakah ia benar-benar bertemu dengan si perempuan pagi atau hanya bunga tidur, ia tidak tahu pasti. Nyawanya baru terkumpul duapertiga. Tatapan matanya kembali menuju ke arah lanskap di balik jendela. Sebuah pegunungan yang tidak terlalu tinggi membentang hijau. Tatapan matanya memandang jauh, amat jauh. 

Tanpa disadari, bibirnya tertarik ke arah kiri satu sentimeter ketika melihat meja kursi dengan cangkir kopi yang tinggal sepertiga.

Leave a Reply

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...